Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra
Prinsip Pembelajaran Apresiasi Sastra

Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar tentunya diarahkan

Untuk meningkatkan kemampuan siswa untuk berkomunikasi dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar di dalamnya juga termasuk pembelajaran sastra.

Konsep dasar pembelajaran sastra pada mata pelajaran bahasa Indonesia dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan secara substansial menunjukkan posisi pembelajaran sastra yang dideskripsikan secara jelas dan operasional. Kejelasan posisi ini diungkapkan dalam tujuan umum pembelajaran, yaitu siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri (KTSP Tahun Pelajaran 2006/2007).

 

Tujuan pembelajaran secara umum

Tersebut dijabarkan lagi dalam beberapa tujuan khusus. Tujuan khusus yang terkait dengan pengetahuan sastra, yaitu siswa dapat menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Selain itu, dari pembelajaran sastra siswa diharapkan dapat menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Pada akhir pendidikan di SD/MI, siswa telah membaca sekurang-kurangnya sembilan buku sastra dan nonsastra (KTSP Tahun Pelajaran 2006/2007).

Ada beberapa prinsip yang dapat dijadikan pegangan dalam pembelajaran apresiasi karya sastra, khususnya apresiasi puisi. Prinsip-prinsip ini akan menentukan langkah dan keberhasilan pengajaran sastra, khususnya puisi. Apresiasi puisi merupakan penghargaan terhadap puisi melalui aktivitas resepsi, produksi, performansi, dan dokumentasi. Dengan demikian, kegiatan apresiasi bukan sekedar kegiatan proses memahami, tetapi juga menyangkut penampilan, bahkan menghasilkan karya sastra.

 

Dalam konteks pembelajaran sastra

Pengalaman berapresiasi puisi tentunya tidak semata-mata diperoleh dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan pendapat para ahli unsur pembentuk puisi dapat dipilah menjadi dua kelompok, yaitu hal-hal yang dapat diamati atau tampak dan hal-hal yang tidak dapat diamati atau tidak tampak. Squire dan Taba mengatakan bahwa apresiasi sebagai suatu proses melibatkan tiga unsur inti, yakni

  1. Aspek kognitif, berkaitan dengan keterlibatan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif yaitu yang dapat berhubungan langsung dengan unsur-unsur secara internal terkandung dalam teks sastra tersebut atau unsur intrinsik dan di luar teks sastra itu atau unsur ekstrinsik.
  2. Aspek emotif, yaitu yang berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dalam upaya menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibacanya, bersifat subjektif.
  3. Aspek evaluatif yaitu aspek yang berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian terhadap baik-buruk, suka tidak suka atau berbagai ragam penilaian yang bersifat kritik dan bersifat umumserta terbatas pada kemampuan aspirator dalam merespon teks sastra yang dibaca sampai pada tahapan pemahaman dan penghayatan sekaligus mampu melaksanakan penilaian (dalam Aminuddin, 2009: 34).

.

Menurut Moody (1971) karya sastra memiliki prinsip ganda yaitu

Sastra sebagai pengalaman dan sastra sebagai bahasa. Sastra sebagai pengalaman artinya sesuatu yang harus dihayati, dinikmati, dirasakan dan dipikirkan. Dengan demikian, berdasarkan prinsip ini karya sastra yang kita sajikan dalam pengajaran apresiasi sastra hendaknya menyajikan pengalaman baru yang kaya bagi para siswa. Oleh karena itu, karya sastra tersebut harus memberikan pengaruh kepada kehdupan para siswa.

Apresiasi itu terjadi secara bertahap dari mulai tingkat rendah sampai tingkat tinggi. Pada tingkat permulaan atau rendah masih terlibat perasaan pribadi, sedang pada perkembangannya yang lebih tinggi kemampuan intelektual mengatasi keterlibatan emosional itu. Oleh kerena itu, apresiasi seseorang dapat dikembangkan ke arah yang lebih tinggi. Tingkatan apresiasi merupakan tahap-tahap apresiator dalam memahami puisi dari mulai tingkat yang paling mudah yaitu mengenal puisi hingga mengkritisi puisi. Mengapresiais puisi hampir sama dengan mengapresiasi film. Lewat media akan memudahkan menghayati dalam penangkapan ide yang terkandung dalam puisi, yaitu melukiskan atau menggambarkan imaji dalam puisi sehingga terlihat objeknya secara jelas.

Sementara itu, Disick (dalam Waluyo 2008:45) menyebutkan adanya empat tingkatan apresiasi, yaitu (1) tingkat menggemari, (2) tingkat meningkati, (3) tingkat mereaksi, (4) tingkat produkif. Pada tingkat pertama, yaitu menggemari berarti keterlibatan batinnya belum kuat. Apresiator baru sering terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan puisi. Kedua, yaitu menikmati keterlibatan batin pembaca terhadap karya sastra sudah semakin mendalam. Pada tahap ini pembaca atau apresiator mampu menikmati keindahan yang ada dalam karya sastra itu secara kritis. Ketiga, yaitu mereaksi secara kritis terhadap karya sastra karena ia mampu menafsirkan dengan seksama dan mampu menilai baik buruknya sebuah karya sastra. Keempat, yaitu produktif, apresiator karya sastra mampu menghasilkan (menulis).

Tingkatan dalam apresiasi sebagai tolok ukur kualitas si apresiastor dalam menggauli dan mengenal secara akrab sebuah karya sastra yang memiliki makna luas. Keakraban ini akan memengaruhi sikap apresiasor dalam memahami dan menghargai karya sastra. Seorang apresiator juga harus memiliki bekal-bekal tertentu yaitu, (1) kepekaan emosi dan perasaan seningga mampu memaknai dan menikamati unsur-unsur keindahan yang terdapat dalam cipta sastra, (2) memiliki pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan, (3) memahami unsur-unsur intrinsik karya sastra yang berhubungan dengan telaah teori sastra.

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-dan-contoh-jaringan-hewan/