Pengertian Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

Pengertian Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah

 Mallen, Ogawa dan Kranz (dalam Abu-Duhou, 2002) memandang Manajemen Berbasis Sekolah sebagai suatu bentuk desentralisasi yang memandang sekolah sebagai suatu unit dasar pengembangan dan bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan. Suatu definisi yang menyeluruh dan koleks juga dikmukakan oleh Neal (1991, h.17) sebagai berikut :

  1. Manajemen Berbasis Sekolah adalah sekolah yang berdasarkan penelitian, komitmen, system tertentu dan pengoperasian sekolah dari suatu wilayah menggunakan metode sentralsasi dengan parameter dan peran staf yang akan terlibat untuk memaksimalkan efektifitas penggunaan sumber daya.
  2. Bagian anggaran yang diberikan dalam bentuk keseluruhan secara atur berdasarkan alokasi persiswa yang berbeda misalnya untuk SD, SMP, SMA dan SLB masing-masing perhhitungannya berbeda demi kepentingan siswa di sekolah tersebut.
  3. Rencana anggaran dan pendapatan belanja sekolah (RABBS) dalam pemberian kewenangan untuk mengambil keputusan pada setiap sekolah.

Manajemen berbasis sekolah ini diterapkan dengan tujuan agar sekolah diberi wewenang untuk mengelola sekolahnya semaksimal mungkn sesuai dengan visi dan misi sekolah tersebut agar mutu pendidikan dapat ditingkatkan dalam modal manajemen berbasis sekolah kewenangan pengambilan keputusan tidak berada pada kepala sekolah seorang diri, seperti yang terjadi selama ini, tetapi dilakukan secara kolektif sesame guru dibantu dengan komite sekolah untuk mendukung pelaksaan manejemen berbasis sekolah sebagai satuan pendidikan untuk mengetahui alasan dan bagaimana menerapkan konsep manajemen berbasi sekolah.

  1. Manajemen Berbasis Sekolah dan Peningkatan Mutu Pendidikan

Kualitas dalam arti luas dapat diartikan dengan dua konsep yaitu;  Absolut, dan relatif. Dalam konsep absolut suatu (barang) dapat diartikan berkualitas apabila telah memenuhi standart tinggi dan sempurna. pencapaian ini dapat diartikan bahwa (barang) tersebut tidak melebihi standart yang ada.

Dalam konsep Absolut, kualitas diartikan sebagai kecantikan, kebaikan, kepercayaan yang ideal tanpa adanya kompromi. Apabila dipraktikkan dalam dunia pendidikan, konsep Absolut bersifat elastis. Hal ini dikarenakan minimnya lembaga pendidikan yang mampu menawarkan kualitas tinggi kepada peserta didik, dan sedikit jumlah peserta didik yang akan mampu membayarnya.

Sedangkan dalam konsep relatif kualitas bukan merupakan atribut dari suatu jasa melainkan kualitas dinilai apabila telah mencapai spesifikasi yang ditetapkan. Sehingga konsep relatif mengartikan kualitas sebagai alat ukur produk akhir dari standar yang ditentukan. Nilai suatu barang atau jasa dalam konsep relatif ini tidak harus mahal, eklusif danspesial. Hal ini dikarenakan konsep relatif meyakini bahwa barang yang berkualitas bias biasa-biasa saja, bersifat umum, dan dikenal banyak orang sehingga konotasi cantik akan terlihat dengan sendirinya.

Konsep relatif menitik beratkan produk atau jasa yang berkualitas pada kesesuaian produk dengan tujuan. Konsep relatif juga melihat kualitas dengan dua aspek yaitu ;

  1. Sudut pandang produsen sudut pandang ini kualitas dilihat dari spesifikasi yang ditetapkan.
  2. Sudut pandang konsumen atau pengguna dapat diartikan bahwa kualitas ditujukan untuk memenuhi tuntutan pelanggan.

Selain itu, kualitas juga diukur oleh beberapa elemen yaitu ;

  1. Usaha untuk memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.
  2. Mencangkup adanya jasa, produk, manusia, proses, serta tersedianya lingkungan.
  3. Kondisi yang selalu berubah.

Berdasarkan elemen-elemen tersebut kualitas dapat didefinisikan sebagai kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasan, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Dalam konteks pendidikan pengertian mutu dalam hal ini mengacu pada “proses pendidikan” dan “hasil pendidikan”.