Pengaruh dari Lingkungan

Pengaruh dari Lingkungan

Pengaruh dari LingkunganPengaruh dari Lingkungan

Pembangunan waduk disalah satu sisi dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi salah satu alternatif mata pencaharian, waduk juga dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air.

Namun, bak pisau bermata dua, waduk ternyata juga mampu menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi bumi. Butuh peran masyarakat dan pemerintah dalam mengurangi risiko besarnya gas metana yang dilepaskan dari waduk tesebut.

Sekarang hal ini menjadi sorotan dan hingga kini masih menjadi kontroversi adalah emisi gas metana dalam jumlah besar juga dapat berasal dari waduk dan bendungan. Potensi waduk dan bendungan sebagai penghasil gas metana sangat dipengaruhi oleh kondisi lahan waduk sebelum dialiri, kondisi kualitas air waduk, dan kondisi waduk itu sendiri.

Hal tersebut terungkap dari makalah yang dipresentasikan pada Kolokium Puslitbang Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum di Bandung, Rabu (15/5/2013) pekan lalu, berjudul “Emisi Gas Metana dari Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur”. Dari presentasi ini terlihat, bahwa tidak semua orang mengetahui bahwa waduk dan bendungan juga mampu menghasilkan gas metana.

Selain itu, Waduk Saguling juga mengandung bahan organik paling besar dan paling subur. Akibatnya, tumbuhan eceng gondok tampak mampu tumbuh dengan subur di waduk tersebut. Jika dibandingkan dengan nilai rata-rata waduk di Brazil, Panama, dan Guyana, emisi gas metana di Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur ternyata lebih tinggi.

Namun, jika dibandingkan dengan emisi dari tempat pembuangan akhir (TPA) sampah, rawa, dan sawah di Indonesia, emisi gas metana di ketiga waduk di Jawa Barat ini lebih kecil. Besar atau kecil jumlah emisi gas metana yang dihasilkan tentunya pelu diantisipasi.

Gas metana mempunyai efek pemanasan 25 kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan CO2. Perhitungan ini berdasarkan rata-rata dari efek pemanasan metana selama 100 tahun. Akan tetapi, setelah 1 dekade, gas metana sulit dilacak dan hampir menghilang setelah 20 tahun, dengan demikian secara dramatis akan menghabiskan rata-rata 1 abad untuk mengurangi dampaknya. Dan karena kita tidak mempunyai waktu 100 tahun untuk mengurangi efek gas rumah kaca kita, maka perhitungan terbaru menunjukkan bahwa selama periode 20 tahun efek pemanasan metana menjadi 72 kali lebih kuat.

Upaya mengurangi emisi metana dari waduk dapat dilakukan dengan cara pembersihan dari tanaman dan tumbuhan liar untuk mengurangi proses pembusukan pada waktu tergenang, membersihkan tumbuhan di pinggir waduk, serta menjaga kualitas air yag masuk dalam waduk. Masyarakat bisa menghindari bahan pencemar seperti limbah domestik, industri, pertanian, dan perikanan dari air waduk.

Emisi gas metana berasal dari alam seperti lautan, lapisan es permanen, tanah-tanah yang gembur, serta berasal dari aktivitas manusia. Metana yang dihasilkan akibat aktivitas manusia merupakan salah satu penyumbang metana yang terbesar yang khususnya berasal dari pembakaran tanaman organik (pembakaran tumbuhan untuk membuka lahan dan pemanfaatan lahan) serta industri peternakan.

Selain itu:

Methane dapat terbentuk oleh proses pembusukan anaerobik bakterial dari pepohonan dan binatang seperti kalau dibawah air akan terbentuk gas rawa-rawa.

Methane dapat dibentuk dalam proses pembusukan bahan natural dan sering ditemukan di gundukan sampah, rawa-rawa, septik tank, selokan.

Methane dapat membentuk explosive mixture dengan udara dengan konsentrasi serendah

Metana dari sektor industri pertambangan batu bara, kilang minyak, dan kebocoran saluran pipa gas dapat diminimalkan melalui perubahan dan kemajuan teknologi saat ini. Akan tetapi metana dari industri peternakan merupakan penyumbang emisi terburuk dan terbesar dari aktivitas manusia.

Dampak Gas Metana Terhadap Manusia

Dampak gas metana dapat kita lihat dari segi ekonomis dan segi lingkungannya, dan keduanya mempunyai konsekuensi masing-masing jika memang ingin diterapkan. Dari segi ekonomi dapat mengurangi ketegantungan kita terhadap bahan bakar fosil yang semakin hari semakin sedikit jumlahnya. Sehingga eksploitasi dan isolasi gas metana dapat digunakan sebagai bahan pengganti bahan bakar fosil. Mengingat jumlahnya yang sangat besar, baik dalam bentuk metan hidrat yang ada di kutub utara dan selatan, danau Baikal serta di dasar laut. Belum lagi ditambah gas metana hasil kotoran hewan ternak yang jumlahnya melebihi penduduk bumi. Tentunya ini bisa jadi bahan pertimbangan jika suatu hari nanti bahan bakar fosil habis. Tapi, namanya juga eksploitasi, selalu ada dampak negative yang ditimbulkan. Jadi harus dipertimbangkan benar-benar dampak negatifnya jika ingin mengambil langkah ini.

Dari segi lingkungan tidak salah lagi, gas metana menjadi penyebab utama pemanasan bumi sehingga berdampak pada perubahan iklim. tentunya sangat membahayakan bagi tatanan kehidupan yang ada di planet kita. Mengapa bisa demikian? Metana adalah gas dengan emisi gas rumah kaca 23 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2), yang berarti gas ini kontributor yang sangat buruk bagi pemanasan global yang sedang berlangsung. Berita buruknya adalah pemanasan global membuat suhu es di kutub utara dan kutub selatan menjadi semakin panas, sehingga metana beku yang tersimpan dalam lapisan es di kedua kutub tersebut juga ikut terlepaskan ke atmosfer.

Para ilmuwan memperkirakan bahwa Antartika menyimpan kurang lebih 400 miliar ton metana beku, dan gas ini dilepaskan sedikit demi sedikit ke atmosfer seiring dengan semakin banyaknya bagian-bagian es di antartika yang runtuh. Anda bisa membayangkan betapa mengerikannya keadaan ini: Bila Antartika kehilangan seluruh lapisan esnya, maka 400 miliar ton metana tersebut akan terlepas ke atmosfer! Ini belum termasuk metana beku yang tersimpan di dasar laut yang juga terancam mencair karena makin panasnya suhu lautan akibat pemanasan global.

Sekali terpicu, siklus ini akan menghasilkan pemanasan global yang sangat parah sehingga mungkin dapat mematikan sebagian besar mahluk hidup yang ada di darat maupun laut. Saya kurang pasti juga, tapi kalau dilihat dari satelit, kondisi benua antartika, dan Greenland; es yang ada di sana dari tahun ketahun semakin berkurang dengan kecepatan mencair lebih dari yang diprediksikan para ilmuan.

Akhir-akhir ini, pemerintah di seluruh dunia lebih fokus dalam kebijakan untuk mengurangi emisi CO2 akan tetapi, informasi terakhir mengenai metana harus membuat pemerintah lebih fokus terhadap kebijakan untuk mengurangi penggunaan metana.

Para ahli hingga sekarang terus mengingatkan kita tentang dampak dari metana yang mempunyai efek pemanasan beberapa kali lebih kuat dalam menyebabkan pemanasan di planet ini dibandingkan dengan CO2 dan kita harus segera mengurangi emisi metana kita secara drastis demi kepentingan bumi dan seluruh penghuninya. Cara yang paling cepat dan efektif untuk menguranginya adalah dengan menjalani pola makan non-hewani atau vegan. Dan ini dapat dilakukan oleh semua orang.


Baca juga: