ismail raji al faruqi tentang tauhid

Pemikiran Ismail al-Faruqi

1. Tauhid dalam pandangan al-Faruqi

Tauhid atau prinsip keesaan Tuhan yang didalam islam merupakan pondasi pokok untuk meneggakkan tiang agama islalm, telah mewarnai bangunan spiritualitas atau kesadaran keberagaman umat islam.
Seorang muslim menurut al-Faruqi berarti menganggap tuhan semata sang pencipta normative yang kehendaknya semata-mata sebagai perintah yang harus diikuti dan pola-polanya adalah semata-mata sebagai kebutuhan etis penciptaan.
Al-Faruqi sendiri menyatakan bahwa tauhid merupakan esensi peradaban islam, yaitu sebagai prinsip penentu pertama dalam islam, kebudayaan dan peradabannya. Tauhid menurut al-Fruqi disamping sebagai inti pengalaman keagamaan atau tepatnya intisari islam, juga sebagai pandangan dunia. Pengakuan al-Faruqi terhadap eksistensi Tuhan sebagai causa prima tampak lebih cenderung kepada pemahaman teolog muslim daripada para filosof. Menurutnya tuhan dalah zat yang memerintahkan. Gerakan-gerakannya, pemikiran-pemikirannya,dan perbuatan-perrbuatannya adlah realitas-realitas yang tak dapat diragukan kebenarannya.

2. Pemikiran Tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Menurut al-Faruqi, Islamisasi adalah usaha “untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikirkan kembali argumen dan rasionalisasi yang berkaitan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, memproyeksikan kembali tujuan-tujuan dan melakukan semua itu sedemikian rupa sehingga disiplin-disiplin ini memperkaya wawasan Islam dan bermanfaat bagi cause (cita-cita)”. Dan untuk menuangkan kembali keseluruhan khazanah pengetahuan umat manusia menurut wawasan Islam, bukanlah tugas yang ringan yang harus dihadapi oleh intelektual-intelektual dan pemimipin-pemimpin Islam saat ini. Karena itulah, untuk melandingkan gagasannya tentang Islamisasi ilmu, al-Faruqi meletakan “prinsip tauhid” sebagai kerangka pemikiran, metodologi dan cara hidup Islam.
Menurut Al-Faruqi pengetahuan modern menyebabkan adanya pertentangan wahyu dan akal dalam diri umat Islam, memisahkan pemikiran dari aksi serta adanya dualisme kultural dan religius. Karena diperlukan upaya Islamisasi ilmu pengetahuan dan upaya itu harus beranjak dari Tauhid.
Menurut AI-Faruqi sendiri Islamisasi ilmu pengetahuan berarti mengIslamkan ilmu pengetahuan modern dengan cara menyusun dan membangun ulang sains sastra, dan sains-sains pasti alam dengan memberikan dasar dan tujuan-tujuan yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya, dalam strateginya, dalam apa yang dikatakan sebagai data-datanya, dan problem-problemnya. Seluruh disiplin harus dituangkan kembali sehingga mengungkapkan relevensi Islam sepanjang ketiga sumbu Tauhid yaitu, kesatuan pengetahuan, hidup dan kesatuan sejarah.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

pemikiran kalam ulama modern

PEMIKIRAN KALAM ULAMA MASA KINI ‘ISMAIL AL-FARUQI’

Biografi Ismail al-Faruqi

Ismail Raji al-Faruqi adalah seorang intelektual muslim yang berasal dari palestina. Ia dilahirkan pada tanggal 1 januari 1921 di Jaffa Palestina. Pendidikan awalnya ditempuh di lembaga pendidikan yang bernama Collage de Fereres di Lebano, dari tahun 1926-1936. Kemudian Ia melanjutkan studinya ke sebuah perguruan tinggi di barat, yaitu American University, hingga mencapai gelar sarjana muda pada tahun 1941. Setelah itu dirinya menjadi pegawai pemerintah Palestina , yang ketika itu masih dibawah mandat Inggris, selama empat tahun. Setelah itu ia diangkat menjadi gubernur Galilea yang terakhir karena pada tahun 1947 provinsi yang dipimpimnya itu jatuh ketangan Israel. Keadaan tersebut memaksanya untuk pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1948.[1]
Kepindahannya ke Amerika Serikat ternyata merubah haluan hidupnya. Dia berubah menggeluti dunia akademik dan sangat memperhatikan persoalan-persoalan ilmu pengetahuan. Perhatiannya ini akhirnya menjadi motivasi baginya untuk terus melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada tahun 1949, al-Faruqi meraih gelar M.A dalam bidang filsafatdi Indiana University. Selain itu al-Faruqi juga mengikuti kuliah di Harvard University dan mengambil disiplin ilmu yang tidak jauh berbeda dengan kuliahnya di Indiana University. Ia pun mendapaat gelar kedua kalinya dengan tesis yang berjudul :”on justifying in good, metaphisyc and epistemology of value”(tentang pembenaran kebaikan , metafisika, dan epistemology nilai). Gelar doktornya diraih di Indiana University. Setelah itu ia memperdalam ilmu keislaman di Al-Azhar, Kairo Mesir. Hal itu ia lakukan dalam rangka menyeimbangkan antara metodologi dan kerangka keilmuan yang dimiliki dengan materi keislaman. Studinya di Al-Azhar berlangsung selama empat tahun.
Sebagi perwujudan rasa tanggung jawab moralnya sebagai ilmuan atau intelektual, setelah menyalesaikan studinya di Chicago al-Faruqi berusaha menyosialisasikan keilmuannya dengan memberikan kuliah di Mc. Gill University, Montreal Canada, pada tahun 1959. Ia bersama teman-temannya juga terlibat dalam kegiatan Central Institute for Islamic Research dengan jurnal yang diberi nama Islamic Studies. Keterlibatannya itu menyebabkannya pindah ke Karachi pada tahun 1961. Di Pakistan ia hanya mampu bertahan sekitar dua tahun. Pada tahun 1963 ia kembali ke amerika serikat dan memberi kuliah di fakultas agama di University of Chicago. Selanjutnya ia pindah ke program pengkajian isalam di Syiracus University, New York. Lima tahun kemudia yaitu pada tahun 1968, ia pindah ke Tample University, Philadelphia, sebagai professor (guru besar) agama dan mendirikan pusat pengkajian islam. Al-faruqi juga aktif member kuliah di universitas ini sampai akhir hayatnya, yaitu tahun 1986.
Disamping itu, ia juga menjadi dosen luar biasa di berbagai pergurun tinggi diberbagi Negara, seperti di Mindanao State University, Marawy City (Philadelphia ); Universitas Islam di Qom (iran); dan sebagai professor tamu bidang sastra dan kebudayaan islam di University kebangsaan Malaysia. Dia juga sebagai perancang utama kurukulum di the American Islamic College, Chicago.


Sumber: https://robinschone.com/

Tujuan Penentuan Harga Jual

Tujuan Penentuan Harga JualTujuan Penentuan Harga Jual

Tujuan penentuan harga jual yang dilakukan perusahaan terhadap produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut :

  1. Kelangsungan hidup perusahaan
  2. Peningkatan arus keuntungan
  3. Kepemimpinan kualitas produk

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Harga Jual

Terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi harga jual produk, yaitu:

  1. Customers atau pelanggan, pelanggan dapat mempengaruhi harga berdasarkan fitur yang terdapat pada produk tersebut serta kualitasnya.
  2. Competitors atau pesaing, perusahaan harus memperhatikan apa yang dilakukan oleh pesaingnya, termasuk harga jual produk mereka, yang bisa menjadi substitusi produk tersebut.
  3. Costs atau biaya, semakin tinggi biaya produksi produk tersebut, maka semakin mahal produk tersebut dijual.

 

Recent Posts

 

Masalah Makro Ekonomi Dan Kebijakan Fiskal

Masalah Makro Ekonomi Dan Kebijakan Fiskal

Masalah Makro Ekonomi Dan Kebijakan Fiskal
Langkah-langkah pemerintah untuk membuat perubahan-perubahan dalam sistem pajak atau dalam pembelanjannya dengan maksud unttuk mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi dinamakan kebijakan fiskal . Dalam suatu perekonomian tertutup, yaitu perekonomianyang tidak menjalankan kegiatan perdagangan luar negeri. Dua masalah makro ekonomi yang utama adalah pengangguran dan inflasi.

Pada hakekatnya kebijakan fiskal tersebut merupakan kebijakan T (mengubah tarif-tarif pajak) dan kebijakan G (mengubah pengeluaran pemerintah) dengan tujuan untuk mempengaruhi aktivitas perekonomian yang bersangkutan sesuai dengan sasaran-sasaran yang digariskan oleh pemerintah yang bersangkutan .

Masalah pengangguran dan inflasi

Tingkat kegiatan ekonomi negara yang wujud pada suatu waktu tertentu adalah berbentuk salah satu dari tiga keadaan berikut:
-Mencapai tingkat konsumsi tenaga kerja penuh
-Menghadapi masalah pengangguran
-Menghadapi masalah inflasi

Sumber :

http://www.unmermadiun.ac.id/sewulan/index.php/2020/07/situs-jasa-penulis-artikel/

 

Sistem pajak proporsional

Sistem pajak proporsional

Sistem pajak proporsional
Pertambahan dalam pendapatan nasional (ΔY = Y2 – Y) dapat ditentukan dengan menggunakan formula:
ΔY= 1/(1-b+bt) (tΔT)
atau
ΔY= b/(1-b+bt) (ΔT)

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa pengurangan pajak sebanyak ΔT akan menaikkan pendapatan nasional sebanyak b/(1-b+bt) dikali dengan pengurangan pajak yang berlaku.

Angka pengganda Perekonomian Tiga Sektor

 

Angka pengganda untuk pajak yang bersifat tetap
Y = C0 + C (Y – Tx + Tr) + I + G
Y = C0 + CY – CTx + CTr + I + G
Y – CY = C0 – CTx + CTr + I + G
(1 – C)Y = C0 – CTx + CTr + I + G
Y = (C_0-〖CT〗_x+〖CT〗_r+ I+G )/(( I-G))
Y = 1/((1-C)) (C_0- 〖CT〗_x+ 〖CT〗_r+ I+G

Angka pengganda pengeluaran adalah:
KE = 1/((1-C))

Angka pengganda untuk pajak yang bersifat proporsional
TX = T0 – tY
Yd = Y – T0 – tY + Tr
Y = C0 + C ( Y – T0 – tY + Tr) + I G
Y = C0 + CY – CT0 – CtY + CTr + I + G
Y – CY + CtY = C0 – CT0 + CTr + I + G
(1 – C + Ct) Y = C0 – CTX + CTr + I + G
Y = (C_(0 )- 〖CT〗_0+ 〖CT〗_r+ I+G)/(( 1-C+Ct))
Y = 1/((1-C-Ct) ) (C_0- 〖CT〗_0+ 〖CT〗_r+ I+G

Sumber :

TukangKonten.Com : Jasa Penulis Artikel Berkualitas 100%

 

Tujuan Pembangunan Ekonomi

Tujuan Pembangunan EkonomiTujuan Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga menjamin penggunaan faktor-faktor produksi yang ada dengan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun tujuan pembangunan ekonomi yaitu:

1)      meningkatkan kualitas hidup masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokoknya yang meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan perlindungan keamanan dari pemerintah.

2)      Memperluas distribusi berbagai barang kebutuhan pokok.

3)      Mperluas kesempatan kerja.

4)      Memperbaiki kualitas pendidikan.

5)      Meningkatkan pendapatan masyarakat.

6)      Meningkatkan pemahaman dan tingkah laku masyarakat dalam menjunjung nilai-nilai luhur (agama, sosial, dan kultural).

7)      Memperluas pilihan-pilihan ekonomi dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan. Misalnya: kebebasan dari sikap ketergantungan, bukan hanya terhadap orang atau negara lain tetapi terhadap setiap kekuatan yang berpotensi merendahkan nilai-nilai kemanusiaan.

  1. Pertumbuhan Ekonomi

Suatu perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi jika jumlah produksi barang dan jasanya meningkat. Secara riil, dalam kehidupan sehari-hari sangatlah sulit untuk mencatat jumlah unit barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu periode tertentu. Hal ini disebabkan satuan pengukuran yang berbeda dan jenis barang dan jasa yang dihasilkan sangat beragam. Contohnya, produksi padi diukur dalam satuan berat (kg/kw/ton), sementara produksi minyak bumi diukur dalam satuan volume (barel), sedangkan produksi jasa tidak dapat diukur secara fisik, misalnya jasa pariwisata, jasa konsultasi, dan sebagainya.

Recent Posts

Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

Pembangunan dan Pertumbuhan EkonomiPembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi adalah dapat melakukan usaha mengurangi kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan. Dengan demikian pembangunan ekonomi tidak hanya menyangkut bagaimana mengurangi tingkat pengangguran dan kesenjangan pendapatan antara yang kaya dan yang miskin. Sebab dapat saja terjadi, bahwa pendapatan perkapita naik tetapi masih banyak yang kehidupan ekonominya di bawah garis kemiskinan, dan masih banyaknya pengangguran. Jika hal ini terjadi, berarti pembangunan ekonomi belum benar-benar dikatakan berhasil. Istilah pembangunan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi sering diartikan sama. Sebenarnya kedua istilah ini mempunyai arti yang sedikit berbeda. Istilah pertumbuhan ekonomi menerangkan atau mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Sementara, istilah pembangunan ekonomi biasanya dikaitkan dengan perkembangan ekonomi di negara-negara berkembang. Berikut ini masing-masing penjelasannya.

  1. Pembangunan Ekonomi

Pembangunan ekonomi adalah pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan-perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi. Dengan kata lain, istilah pembangunan ekonomi bukan saja terfokus pada masalah perkembangan pendapatan nasional riil, tetapi juga pada modernisasi kegiatan ekonomi, misalnya usaha merombak sektor pertanian tradisional, masalah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan masalah pemerataan pendapatan.

Sumber :

http://rahmad.blog.unismuhpalu.ac.id/jasa-penulis-artikel/

 

Pengertian Tenaga Kerja

Pengertian Tenaga KerjaPengertian Tenaga Kerja

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja. Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun – 64 tahun. Bagaimana dengan penduduk yang berumur kurang dari 15 tahun dan lebih dari 64 tahun? Tentu saja mereka tidak termasuk kelompok tenaga kerja. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting bagi setiap negara. Tanpa adanya tenaga kerja, faktor produksi alam dan faktor produksi modal tidak dapat digunakan secara optimal. Tenaga kerja dibagi atas kelompok angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.

Angkatan kerja adalah kelompok penduduk dalam usia kerja yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Angkatan kerja disebut juga dengan kelompok usia produktif. Tenaga kerja yang termasuk bukan angkatan kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang tidak bekerja, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang tidak mencari pekerjaan, misalnya pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, dan pensiunan.

  1. Klasifikasi Tenaga Kerja
  2. Tenaga Kerja Terdidik

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau kemahiran dalam bidang tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan nonformal. Contohnya: pengacara, dokter, guru, dan lain-lain.

  1. Tenaga Kerja Terampil

Sumber :

https://civitas.uns.ac.id/kasiono/jasa-penulis-artikel/

https://civitas.uns.ac.id/kasiono/jasa-penulis-artikel/

sejarah tradisi islam di nusantara

MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA

Beberapa teori awal masuknya Islam ke Nusantara

Proses masuknya agama Islam ke Indonesia tidak berlangsung secara revolusioner, cepat, dan tunggal, melainkan berevolusi, lambat-laun, dan sangat beragam. Menurut para sejarawan, teori-teori tentang kedatangan Islam ke Indonesia dapat dibagi menjadi:
1. Teori Gujarat
Hanya akibat sistem penulisan, sejarah Islam Indonesia mengikuti hasil penulisan sarjana Belanda, terutama mengikuti teori prof. Dr. C. Snouck Hurgronje maka diteorikan Islam masuk dari Gujarat. Menurutnya, Islam tidak mungkin masuk ke Nusantara Indonesia langsung dari Arabia tanpa melalui ajaran tasawuf yang berkembang di India. Dijelaskan pula bahwa daerah India tersebut adalah Gujarat. Daerah pertama yang dimasuki adalah kesultanan samudra pasai. Waktunya adalh abad ke-13 M. Snouck tidak menjelaskan antara masuk dan berkembangnya Islam. Tidak pula dijelaskan di Gujarat menganut madzab apa dan di samudra pasai berkembang madzab apa? Mungkinkah Islam begitu masuk ke samudra pasai langsung mendirikan kekuasaan politik atau kesultan?[2]
Teori lain muncul dari J. Pijnapel dari Universitas Leiden pada abad ke 19. Menurutnya, orang-orang Arab bermahzab Syafei telah bermukim di Gujarat dan Malabar sejak awal Hijriyyah (abad ke 7 Masehi), namun yang menyebarkan Islam ke Indonesia menurut Pijnapel bukanlah dari orang Arab langsung, melainkan pedagang Gujarat yang telah memeluk Islam dan berdagang ke dunia timur, termasuk Indonesia.

2. Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu teori Gujarat. Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
1. Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan berita Cina.
2. Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
3. Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasal dari Mesir.
Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.[3]

Recent Posts

Metode harga Eceran

Menentukan harga pokok penjualan, yaitu: hasil penjualan dikurangi laba kotor.

2)      Menentukan harga pokok barang yang tersedia dijual yaitu persediaan awal tambah pembeliaan bersih.

3)      Menetukan persediaan akhir, yaitu: harga pokok barang yang tersedia untuk dijual dikurangi harga pokok penjualan.

  • Metode harga Eceran

Pada dasarnya metode ini tidak berbeda dengan metode laba kotor dalam menentukan harga pokok persediaan dengan menggunakan taksiran. Jika metode laba kotor menggunakan presentase laba kotor sebagai dasar penentuan persediaan akhir, namun metode ini menggunakan presentase dari harga pokok barang yang tersedia untuk dijual dengan harga jual barang yang tersedia diual. Dengan demikian disamping data mengenai harga pokok persediaaan awal dan harga pokok barang yang dibeli, metode ini memerlukan data mengenai harga jual dari persediaan awal dan barang yang dibeli. Metode ini banyak digunakan dalam perusahaan yang menjual berbagai jenis barang dagangan secara eceran, karena perhitungan fisik persediaan yang jumlah maupun macamnya relative banyak memakan waktu yang relative lama.

Recent Posts