Mengurangi hoaks, pembatasan medsos atau literasi digital?

Mengurangi hoaks, pembatasan medsos atau literasi digital?

Mengurangi hoaks, pembatasan medsos atau literasi digital

Pembatasan akses ke sejumlah media sosial secara sementara pada 22-25 Mei kemarin untuk mengurangi hoax mendapat tanggapan pro dan kontra dari warganet, sebagian setuju untuk mengurangi hoaks, yang lainnya merasa akses menuju informasi menjadi berkurang.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara beberapa waktu lalu menyatakan

pembatasan ini sesuai dengan UU nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), berkaitan dengan manajemen konten.

Pasal 40 ayat 2 UU ITE menyebutkan pemerintah melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum, sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Kepala Divisi Akses Atas Informasi SAFEnet, Unggul Sagena, berpendapat pembatasan akses ke media sosial seperti kemarin, sebenarnya bisa saja dilakukan selama pemerintah memberikan informasi yang jelas mengenai waktu pembatasan tersebut dan menyampaikan tahapan-tahapannya.

“Masyarakat bisa antisipasi dan memberikan informasi kalau akan

ada ketidakbisaan informasi komunikasi dalam sekian jam sehingga klien, kerabat, dan seterusnya bisa memaklumi,” kata Unggul saat dihubungi Antara, Minggu.

Tapi, hoaks tidak hanya tersebar di hari-hari tersebut dan platform tertentu.

Unggul mengakui selama pembatasan mungkin saja konten hoaks menurun di platform-platform yang dibatasi tersebut, namun dia khawatir hoaks tersebut sebenarnya hanya pending atau tertunda dan tetap terkirim ketika pembatasan dicabut.

 

sumber :

https://www.sekolahbahasainggris.co.id/seva-mobil-bekas/