Memelihara rumah, mengurus suami  dan anak-anaknya

Memelihara rumah, mengurus suami  dan anak-anaknya

            Wanita Muslimah yang cerdas mengetahui tanggung jawab yang diberikan Islam kepadanya dalam memelihara rumah, mengurus suami  dan anak-anaknya. Dikhususkan penyebutan dirinya merupakan penghormatan Islam kepada wanita dalam memikul tanggung jawab tersebut. Hal itu disebutkan dalam sebuah hadits yang di dalamnya Rasulullah menjadikan setiap individu di dalam masyarakat Islam bertanggung jawab terhadap apa yang berada di bawah tanggungan dan kendalinya. Di mana tidak seorang pun dari laki-laki maupun wanita yang bisa lepas dari tanggung jawab tersebut:

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam (penguasa) adalah pemimpin dan dia bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan, orang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Dan, wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya, dan seorang pelayan adalah pemimpin atas harta tuannya dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya itu. Masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan kalian.” (Muttafaq Alaihi).     

Salah satu tugas penting dan menentukan bagi seorang istri adalah mengasuh keturunan. Tanggung jawab yang menyertai tugas semacam ini amatlah berat. Oleh karena itu,  tugas mengasuh keturunan dipandang sebagai tugas suci yang dibebankan Allah SWT kepada kaum wanita. Tidak diragukan lagi bahwa anak merupakan penyejuk pandangan mata, sumber kebahagian, dan belahan hati manusia dalam kehidupan ini. Keberadaan mereka menjadikan kehidupan ini terasa manis, menyenangkan, mudah mendapatkan rezki, terwujud semua harapan, dan hati pun menjadi tenang. Tidak pernah lepas dari pikiran wanita Muslimah bahwa tanggung jawab seorang ibu dalam pendidikan dan pembentukan kepribadian anak-anaknya lebih besar dari pada seorang bapak. Yang demikian itu karena mereka lebih dekat dengan ibu dan lebih banyak berada di sisinya, di samping seorang ibu lebih mengenal keadaan dan perkembangan mereka pada masa-masa pertumbuhan dan puber yang merupakan masa paling berbahaya bagi kehidupan mental, jiwa dan tingkah laku anak. Karena itu, wanita Muslimah yang mengikuti petunjuk agamanya mengetahui tugas pendidikan yang diembannya, juga tanggung jawab penuh dalam pendidikan anak-anaknya yang diungkapkan Al-Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (At-Tahrim: 6).

Islam menjadikan orang tua, khususnya ibu bertanggung jawab penuh pada pendidikan keislaman secara detail bagi anak-anak mereka, juga pada pembentukan diri yang shalih yang tegak di atas akhlak mulia yang oleh Rasulullah disebutkan bahwa dirinya diutus ke dunia ini adalah untuk penyempurnaan dan penanaman akhlak tersebut dalam kehidupan manusia,

“Sesungguhnya aku diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Wanita Muslimah yang benar-benar sadar akan senantiasa menanamkan akhlakul karimah (akhlak terpuji) ke dalam diri anak-anaknya, berupa cinta kasih kepada orang lain, menyambung silaturahmi, membantu orang-orang lemah, menghormati orang tua, menyayangi anak kecil, jujur dalam ucapan dan perbuatan, menepati janji, adil dalam mengambil keputusan, dan lain sebagainya yang termasuk akhlak terpuji.Seorang ibu adalah madrasah (sekolah) pertama dalam pendidikan bangsa, dan dia adalah guru pertama bagi generasi-generasi cerdas, pencipta peradaban, sebagaimana yang diungkapkan oleh penyair Hafidz Ibrahim berikut ini,

“Seorang ibu adalah madrasah, apabila engkau mempersiapkannya,

Berarti telah menyiapkan generasi muda yang baik dan gagah berani.

Seorang ibu adalah guru pertama dari semua guru pertama,

Yang pengaruhnya menyentuh seluruh jagat raya.”

Beberapa Kewajiban Suami

Ø  Memberi Nafkah

Yang dimaksud dengan nafkah adalah semua kebutuhan dan keperluan yang berlaku menurut keadaan dan tempat, seperti makanan, pakaian, rumah dan lain-lain. Nafkah merupakan kewajiban seorang suami terhadap istrinya, dan tidak ada perbedaan pendapat mengenai masalah ini. Bahkan al-Qur’an sendiri telah mewajibkan hal itu melalui firman Allah SWT:

÷,ÏÿYã‹Ï9 r茠7pyèy™ `ÏiB ¾ÏmÏFyèy™ ( `tBur u‘ωè% Ïmø‹n=tã ¼çmè%ø—Í‘ ÷,ÏÿYã‹ù=sù !$£JÏB çm9s?#uä ª!$# 4 Ÿw ß#Ïk=s3ムª!$# $²¡øÿtR žwÎ) !$tB $yg8s?#uä 4 ã@yèôfuŠy™ ª!$# y‰÷èt/ 9Žô£ãã #ZŽô£ç„ ÇÐÈ

Artinya:

Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan. (ath-Thalaq: 7).

https://movistarnext.com/