Kepekaan Seorang Istri

Kepekaan Seorang Istri

Ummu Sulaim r.a. adalah ibu Anas r.a. hasil perkawinannya dengan Malik bin Nadhar terhadap zaman jahiliah. Setelah suaminya meninggal, ia pun menjanda. Abu Thalhah yang terhadap waktu itu masih musyrik hendak melamar Ummu Sulaim r.a. yang udah jadi seorang muslimah.

Terang saja ia menampik lamaran tersebut sambil berkata, “Abu Thalhah, apakah engkau tidak mengetahui bahwa yang anda sembah itu adalah batu yang tidak dapat berikan manfaat atau mudharat kepadamu? Jika anda bersedia masuk Islam, saya pun bersedia menikah denganmu.”

Nasihat tersebut mendorong Abu Thalhah r.a. untuk masuk Islam dan ia menjadikan keislamannya sebagai mahar untuk menikahi Ummu Sulaim r.a.

Dari hasil pernikahannya, mereka dikaruniai putra bernama Abu Umair yang begitu dicintai dan disayangi oleh ayahnya, Abu Thalhah r.a. Begitu pula, Rasulullah saw terhitung menyayanginya supaya selamanya menemani Abu Umair untuk bercanda dan bermain.

Hingga suatu hari, Ummu Sulaim r.a. mendapati Abu Umair udah meninggal akibat sakit yang dideritanya disaat sang bapak tengah pergi nampak rumah. Bisa dibayangkan perasaan seorang ibu disaat putra tercintanya yang begitu disayang suami dan Rasulullah saw udah tidak ada meninggalkan mereka.

Namun, ia serupa sekali tidak meraung-raung menangis lihat putranya terbaring tak bernyawa. la ikhlas mengetahui bahwa putranya itu sebatas titipan Allah SWT. Justru ia berkhayal perasaan suaminya yang pasti bakal sedih mengetahui kepergian putra tercintanya.

Dengan penuh kasih sayang, Ummu Sulaim r.a. memandikan dan mengafani jasad putranya seorang diri, sesudah itu jenazah anaknya ia baringkan di atas daerah tidur.

Ummu Sulaim r.a. pun menyiapkan menu membuka puasa untuk di sajikan terhadap sang suami yang tengah berpuasa. la terhitung berhias mempercantik diri dan menambah wewangian terhadap pakaiannya untuk menyambut kepulangan sang suami.

Ketika Abu Thalhah r.a. pulang, Ummu Sulaim r.a. mengajaknya untuk berbuka puasa dengan hidangan istimewa yang udah ia persiapkan. Setelah menyantap hidangan berbuka, Abu Thalhah r.a. teringat bakal anaknya dan bertanya, “Ummi, bagaimana suasana anak kita?”

“Alhamdulillah, ia baik-baik saja. Tidak usah kau risaukan,” jawab sang istri menenangkan. Ummu Sulaim r.a. tengah mengatur waktu yang tepat untuk memberitahukan tentang berita duka tersebut kepada suaminya.

Pada malam harinya, Ummu Sulaim r.a. melayani sang suami dan tunggu sang suami bangun dari lelapnya. Ketika Abu Thalhah r.a. terbangun, Ummu Sulaim r.a. lihat suasana suaminya yang tenang dan sepertinya siap untuk menerima suasana yang kemungkinan dapat menghancurkan hatinya. Dengan lembut Ummu Sulaim r.a. berkata, “Wahai suamiku, saya membawa pertanyaan untukmu.”

“Apakah itu?” tanya Abu Thalhah r.a.
“Seandainya seseorang menitipkan suatu barang, sesudah itu ia idamkan mengambilnya, haruskah orang yang dititipi mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya?”
“Tentu saja. Dia wajib mengembalikannya. la tidak berhak untuk menyimpannya!” jawab suaminya mantap.
Ummu Sulaim r.a. melanjutkan, “Wahai suamiku, Allah SWT udah menitipkan Abu Umair kepada kami dan Dia udah mengambilnya kembali.”

Abu Thalhah r.a. terperanjat mendengar berita itu. Kesedihan segera merasuk ke didalam sukmanya. “Mengapa engkau tidak mengatakannya sejak tadi malam?” sesal Abu Thalhah r.a.

Peristiwa itu Abu Thalhah r.a. ceritakan kepada Rasulullah saw. Namun, beliau segera mendoakan mereka berdua, “Semoga Allah SWT memberkahi jalinan kalian berdua tadi malam.”

Salah seorang kawan akrab Anshar berikan kesaksian, “Saya lihat berkah dari doa Rasulullah saw. tersebut. Ummu Sulaim r.a. melahirkan Abdullah bin Abu Thalhah r.a. dari jalinan tersebut. Abdullah bin Abu Thalhah r.a. miliki sembilan orang anak yang seutuhnya hafiz Al-Qur’an.” Subhanallah.

Sumber : https://tokoh.co.id/

Baca Juga :