Karakteristik Budaya Organisasi

Karakteristik Budaya Organisasi

Karakteristik Budaya Organisasi

Karakteristik Budaya Organisasi

Robbins (2015:355-356) mengemukakan tujuh karakteristik budaya organisasi sebagai berikut:
  • Inovasi dan keberanian mengambil risiko (innovation and risk taking), sejauh mana para karyawan didorong untuk inovasi dan pengambilan risiko.
  • Perhatian terhadap detail (attention to detail), sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan posisi kecermatan, analisis, dan perhatian pada rincian.
  • Berorientasi pada hasil (outcome orientation), sejauh mana manajemen memfokuskan pada hasil, bukan pada teknis dan proses dalam mencapai hasil tersebut.
  • Berorientasi pada manusia (people orientation), sejauhmana keputusan manajemen memperhitungkan efek pada orang-orang di dalam organisasi itu.
  • Berorientasi tim (team orientation), sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim, bukan individu.
  • Agresif (agressivenses), sejauh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif, bukannya bersikap santai-santai.
  • Stabil (stability), sejauh mana keinginan organisasi menekankan diterapkannya status quo sebagai kontras dari pertumbuhan.
Pernyataan Robbins tersebut didukung oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Jenis-jenis Budaya Organisasi

Jenis-jenis budaya organisasi dapat ditentukan berdasarkan proses informasi dan tujuannya.

Berdasarkan proses informasiĀ 

Robert E. Quinn dan Michael R. McGrath (dalam Pabundu Tika, 2006:7) dalam buku Arie Indra Chandra membagi budaya organisasi berdasarkan proses informasi sebagai berikut.

a. Budaya rasional

Dalam budaya ini, proses informasi individual (klarifikasi sasaran pertimbangan logika, perangkat pengarahan) diasumsikan sebagai sarana bagi tujuan kinerja yang ditunjukkan (efisiensi, produktivitas, dan keuntungan atau dampak).
b. Budaya ideologis
Dalam budaya ini, pemrosesan informasi intuitif (dari pengetahuan yang dalam, pendapat dan inovasi) diasumsikan sebagai sarana bagi tujuan revitalisasi (dukungan dari luar, perolehan sumber daya dan pertumbuhan).
c. Budaya consensus
Dalam budaya ini, pemrosesan informasi kolektif (diskusi, partisipasi, dan konsensus) diasumsikan untuk menjadi sarana bagi tujuan kohesi(iklim, moral, dan kerjasama kelompok).
d. Budaya hierarkis
Dalam budaya hierarkis, pemrosesan informasi formal (dokumentasi, komputasi, dan evaluasi) diasumsikan sebagai sarana bagi tujuan kesinambungan(stabilitas, control, dan koordinasi).
Berdasarkan Tujuannya
Talizuduhu Ndraha membagi budaya organisasi berdasarkan tujuannya, yaitu:
  • Budaya organisasi perusahaan;
  • Budaya organisasi publik;
  • Budaya organisasi sosial.

Sumber : https://newgoat.co.id/warhammer-quest-2-apk/