Karakter Dasar Siswa

Karakter Dasar Siswa

Karakter Dasar Siswa

Karakter Dasar Siswa
Karakter Dasar Siswa

Pengertian Karakter

Ahli pendidikan nilai Darmiyati Zuchdi (dalam Adisusilo, 2013: 77) memaknai watak (karakter) sebagai seperangkat sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang. Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan pendidikan watak adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Hal tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa hormat, tanggung jawab, rasa kasihan, disiplin, loyalitas, keberanian, toleransi, keterbukaan, etos kerja dan kecintaan pada Tuhan dalam diri seseorang. Dilihat dari tujuan pendidikan watak, yaitu penanaman seperangkat nilai-nilai maka pendidikan watak dan pendidikan nilai pada dasarnya sama. Jadi, pendidikan watak pada dasarnya adalah pendidikan nilai, yaitu penanaman nilai-nilai agar menjadi sifat pada diri seseorang dan karenanya mewarnai kepribadian atau watak seseorang.

 

Lebih lanjut pengertian karakter menurut Adisusilo (2013: 78) adalah

seperangkat nilai yang telah menjadi kebiasaan hidup sehingga menjadi sifat tetap dalam diri seseorang, misalnya kerja keras, pantang menyerah, jujur, sederhana, dan lain-lain. Dengan karakter itulah kualitas seorang pribadi diukur. Sedangkan tujuan pendidikan karakter adalah terwujudnya kesatuan esensial si subjek dengan perilaku dan sikap/nilai hidup yang dimilikinya. Jadi, pendidikan karakter dapat dilakukan dengan pendidikan nilai pada diri seseorang.

 

Karakter atau to mark berasal dari bahasa Yunani yang artinya

Menandai atau memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai dalam bentuk tingkah laku, sehingga orang tidak jujur, rakus, kejam dan perilaku jelek lainnya dapat dikatakan orang berkarakter jelek. Begitu pula dengan sebaliknya perilaku yang sesuai dengan kaidah akan dikatakan berkarakter mulia (Tridhonanto, 2012: 4).

Menurut Pusat Bahasa Depdiknas (dalam Tridhonanto, 2012: 4) kata karakter berarti bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak. Selain itu menurut Tadkiro Musfiroh seorang ahli psikologi karakter (dalam Tridhonanto, 2012: 4) bahwa karakter lebih mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviours), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Senada dengan hal tersebut menurut Sudewo (2011: 13), kata karakter berasal dari kosa kata Inggris, character. Artinya perilaku. Selain character, kata lain yang berarti tingkah laku adalah attitude. Bahasa Inggris tak membedakan secara signifikan antara character dan attitude. Sementara saya cenderung membedakan keduanya secara tegas”.

 

Secara umum attitude dapat kita bedakan atas dua jenis. Attitude 

Yang baik, kita sebut ‘karakter’. Attitude buruk kita katakan ‘tabiat’. Karakter merupakan kumpulan dari tingkah laku baik dari seseorang anak manusia. Tingkah laku ini merupakan perwujudan dari kesadaran menjalankan peran, fungsi, dan tugasnya mengemban amanah dan tanggung jawab. Tabiat sebaliknya mengindikasikan sejumlah perangkai buruk seseorang (Sudewo, 2011: 13).

Dalam pembentukan kualitas manusia, peran karakter tidak dapat disisihkan. Sesungguhnya karakter inilah yang menempatkan baik tidaknya seseorang. Posisi karakter bukan jadi pendamping kompetensi, melainkan jadi dasar, ruh, atau jiwanya. Tanpa karakter, peningkatan diri dari kompetensi bisa liar, berjalan tanpa rambu dan aturan. Begitulah karakter selalu meningkatkan manusia untuk tidak lupa ‘memperbaiki diri’. Maka karakter dapat didefinisikan sebagai kumpulan sifat baik yang menjadi perilaku sehari-hari, sebagai perwujudan kesadaran menjalankan peran, fungsi, dan tugasnya dalam mengemban amanah dan tanggung jawab.

Karakter ini meliputi sikap seperti keinginan untuk melakukan hal yang terbaik, yaitu (a) kapasitas intelektual seperti berpikir kritis dan alasan moral, (b) perilaku jujur dan bertanggung jawab, (c) mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam situasi penuh ketidakadilan, (d) kecakapan interpersonal dan emosional, dan (e) komitmen untuk berkontribusi dengan komunitas dan masyarakatnya (Tridhonanto, 2012: 4).

Adapun faktor utama dalam memengaruhi karakter dan perkembangan moral anak adalah faktor keturunan, pengalaman masa kanak-kanak, model dari orang yang lebih dewasa. Saat remaja dirinya mudah terpengaruh dari teman sebayanya, lingkungan fisik dan sosial secara umum, media komunikasi, apa yang diajarkan di sekolah dan lembaga lain, dan situasi terkini, hal ini diutarakan Campbell dan Obligasi (dalam Tridhonanto, 2012: 12) dalam penelitiannya mengenai faktor pembentukan karakter anak.

Dari pendapat-pendapat di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa karakter sebagai proses manusia saat belajar untuk mengatasi kelemahannya dan memperbaiki kelemahannya dan memunculkan kebiasaan positif yang baru. Dengan demikian maka karakter tidak bisa diwariskan, karakter tidak bisa dibeli dan karakter tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangunkan dan dikembangkan secara sadar hari demi hari dengan melalui suatu proses. Karakter bukanlah sesuatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari (Tridhonanto, 2012: 4).

Dari pendapat keenam ahli diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian karakter adalah seperangkat nilai dan sifat-sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebijakan, dan kematangan moral seseorang yang telah menjadi kebiasaan hidup sehingga menjadi sifat tetap dalam diri seseorang. Karakter inilah yang menempatkan baik tidaknya seseorang. Posisi karakter bukan jadi pendamping kompetensi, melainkan jadi dasar, ruh, atau jiwanya. Selain itu dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, dan watak. Karakter lebih mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviours), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/