Hak dan Kewajiban Suami Istri

Hak dan Kewajiban Suami Istri

Yang dimaksud dengan hak di sini adalah apa-apa yang diterima oleh seseorang dari orang lain, sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban adalah apa yang mesti dilakukan seseorang terhadap orang lain. Dalam hubungan suami istri dalam rumah tangga suami mempunyai hak dan begitu pula istri mempunyai hak. Di balik itu suami mempunyai beberapa kewajiban dan begitu pula si istri mempunyai beberapa kewajiban. Adanya hak dan kewajiban antara suami istri dalam kehidupan rumah tangga itu dapat dilihat dalam beberapa ayat al-Qur’an dan beberapa hadis Nabi. Contoh dalam al-Qur’an, umpamanya pada surat al-Baqarah (2) ayat 228:

Artinya:

Dan Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi Para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Ayat ini menjelaskan bahwa istri mempunyai hak dan istri juga mempunyai kewajiban. Kewajiban istri merupakan hak bagi suami. Hak istri semisal hak suami yang dikatakan dalam ayat ini mengandung arti hak dan kedudukan istri semisal atau setara atau seimbang dengan hak dan kedudukan suami. Meskipun demikian, suami mempunyai kedudukan setingkat lebih tinggi, yaitu sebagai kepala keluarga, sebagaimana diisyaratkan oleh ujung ayat tersebut  di atas.

Contoh dalam hadis Nabi, umpamanya hadis dari Amru bin al-Ahwash:

“Ketahuilah bahwa kamu mempunyai hak yang harus dipikul oleh istrimu dan istrimu juga mempunyai hak yang harus kamu pikul.

Keberadaan laki-laki dan perempuan merupakan dua fondasi pokok dalam kehidupan keluarga. Namun sesuai hukum penciptaan, kaum lelaki lebih mengutamakan akal ketimbang perasaannya. Berkenaan dengan itu, Allah SWT melimpahkan wewenang kepada kaum laki-laki untuk memimpin bahtera hidup rumah tangga,

            “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan,

Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki)

Atas sebahagian yang lain (perempuan) dan karena mereka

(laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka.” (an-Nisa’: 34)

     Allah SWT melimpahkan tugas dan tanggung jawab yang jauh lebih berat dan sulit kepada kaum lelaki ketimbang yang diberikan kepada kaum perempuan. Dengan kapasitas dan kemampuan akalnya, seorang lelaki dapat mengatur kehidupan rumah tangga dengan baik. Dengannya, kebahagian hidup keluarga niscaya akan dapat diraih. Rasulullah saw bersabda, “Allah swt akan menanyakan kepada setiap pemimpin tentang bagaimana keadaan yang dipimpinnya, dijaga ataukah tidak, sampai kemudian Allah bertanya kepada kaum laki-laki perihal keluarganya.”

Beberapa Kewajiban Istri

Ø  Taba’ul

Makna taba’ul adalah ketaatan serta kepatuhan istri terhadap suaminya dengan cara menghormati, menghargai, mematuhi, dan menjaga kehormatan serta harta benda sang suami. Wanita Muslimah yang senantiasa menjalankan ajaran agamanya akan selalu mentaati suaminya,tanpa sedikit pun membantahnya, berbakti kepadanya, dan berusaha untuk mencari keridhaannya serta memberikan kebahagiaan pada dirinya, meskipun dia hidup dalam kemiskinan dan kesulitan.

Secara mutlak seorang istri wajib taat kepada suaminya terhadap segala yang diperintahkannya, asalkan tidak termasuk perbuatan durhaka kepada Allah. Sebab memang tidak ada alasan sama sekali bagi makhluk untuk taat kepada sesama makhluk dalam berbuat durhaka kepada Allah. Setiap mukminah yang taat kepada suaminya yang mukmin, ia akan masuk ke surga Tuhannya. Dalilnya ialah sebuah riwayat, bahwa sesungguhnya Asma’binti Yazid Al-Anshari menemui Nabi SAW. Ia mengaku sebagai delegasi kaum wanita. Kemudian ia memprsoalkan tentang keutamaan mendapatkan pahala berjihad dan shalat berjamaah yang hanya dimonopoli oleh kaum laki-laki. Beliau lalu bersabda,

“Sampaikan kepada wanita-wanita yang mengutusmu, bahwa sesungguhnya pahala taat kepada suami dan mengakui hak-haknya, itu sebanding dengan hal itu. Tetapi sedikit di antara kalian yang melaku-kannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, “Ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah, siapakah istri terbaik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu istri yang menyenangkan suami jika dipandangnya, yang taat kepadanya jika disuruh, dan yang tidak menentangnya terhadap yang menyangkut dirinya maupun terhadap suaminya dengan hal-hal yang tidak disukai oleh sang suami.

https://haciati.co/