Tencent Menyiapkan Sistem Untuk Mencegah Kecanduan Game

Tencent Holdings akan merealisasikan sistem pencegahan kejangkitan bermain gim untuk para pemain di bawah usia pada 9 gim baru miliknya. Tahun depan, aturan ini pun berlaku untuk semua gim miliknya, seperti diberitahukan perusahaan tersebut pada akun yang resmi di WeChat. Tahun lalu, Tencent melulu mengaplikasikan sistem ini pada gim populer, Honor of Kings.

Untuk mengidentifikasi apakah pemain dibawah usia atau tidak, sistem ini dibekali dengan pengecekan ID dan pengenalan wajah. Lantas, ketika bermain durasi pemain diberi batas untuk menciptakan ekosistem bermain gim yang lebih sehat.

Pemerintah China tengah mengetatkan aturan pembatasan bermain gim yang menyebut bila anak berusia dibawah 12 tahun hanya diizinkan bermain satu jam dalam sehari. Baru pada jam 9 malam hingga 8 pagi mereka diizinkan untuk bermain sekitar 2 jam.

Ini ialah upaya Tencent untuk mengisi permintaan pemerintah China yang ingin supaya sistem guna memerangi kejangkitan bermain gim diperluas pada sebanyak video gim online baru, seperti diberitahukan Agustus lalu.

Berdasarkan pendapatannya, Tencent adalahperusahaan gim terbesar di dunia. Namun, perusahaan itu, terjegal ketentuan pemerintah tahun ini.

Perusahaan gim terbesar asal China ini diberitakan tengah merasakan penurunan saham sebesar 28 persen pada tahun ini. Hal tersebut diakibatkan karena otoritas China belum mengamini perusahaan tersebut merilis gim baru dan meloloskan izin pembelian dalam gim mereka (in-app purchase) semenjak Maret lalu.

Padahal model bisnis itulah yang menebalkan pundi-pundi Tencent. Akibatnya, perusahaan ini tidak mendapatkan duit dari sejumlah gim populer, laksana PlayerUnkown’s Battlegrounds Mobile (PUBG Mobile).

Tencent dikabarkan sudah mencoba mengerjakan verifikasi identitas serta pengenalan wajah guna pemuda di Beijing dan Shenzen pada September lalu. Perusahaan masih mengerjakan tahap uji coba semenjak Oktober, dan diinginkan dapat berlalu pada akhir bulan ini.

Baca Juga :

Karya Ilmiah Dan Karya Non Ilmiah

Karya Ilmiah Dan Karya Non Ilmiah

Karya Ilmiah Dan Karya Non Ilmiah

Karya Ilmiah Dan Karya Non Ilmiah
Karya Ilmiah Dan Karya Non Ilmiah

Pengertian

Suatu karya ilmiah (scientific paper) adalah laporan tertulis dan dipublikasi yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.

Karya ilmiah merupakan karya tulis yang menyajikan gagasan, deskripsi atau pemecahan masalah secara sistematis, disajikan secara objektif dan jujur, dengan menggunakan bahasa baku, serta didukung oleh fakta, teori, dan atau bukti-bukti empirik.

Tujuan penulisan karya ilmiah, antara lain untuk menyampaikan gagasan, memenuhi tugas dalam studi, untuk mendiskusikan gagasan dalam suatu pertemuan, mengikuti perlombaan, serta untuk menyebarluaskan ilmu pengetahuan/hasil penelitian.

Ciri-Ciri

Ciri-ciri karya ilmiah menurut Alamsyah (2008:99) adalah sebagai berikut: (1) merupakan pembahasan suatu hasil penelitian (faktual objektif ). Artinya, faktanya sesuai dengan yang diteliti.

(2) bersifat methodis dan sistematis. Artinya, dalam pembahasan masalah digunakan metode tertentu dengan langkah langkah yang teratur dan terkontrol secara tertip dan rapi.

(3) tulisan ilmiah menggunakan laras ilmiah. Artinya, laras bahasa ilmiah harus baku dan formal. Selain itu laras ilmiah harus lugas agar tidak ambigu (ganda).

Macam-macam

1. Artikel Ilmiah Popular

Berbeda dengan artikel ilmiah, artikel ilmiah popular tidak terikat secara ketat dengan aturan penulisan ilmiah. Sebab, ditulis lebih bersifat umum, untuk konsumsi publik. Dinamakan ilmiah populer karena ditulis bukan untuk keperluan akademik tetapi dalam menjangkau pembaca khalayak. Karena itu aturan-aturan penulisan ilmiah tidak begitu ketat. Artikel ilmiah popular biasanya dimuat di surat kabar atau majalah. Artikel dibuat berdasarkan berpikir deduktif atau induktif, atau gabungan keduanya yang bisa ‘dibungkus’ dengan opini penulis.

2. Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah, bisa ditulis secara khusus, bisa pula ditulis berdasarkan hasil penelitian semisal skripsi, tesis, disertasi, atau penelitian lainnya dalam bentuk lebih praktis. Artikel ilmiah dimuat pada jurnal-jurnal ilmiah. Kekhasan artikel ilmiah adalah pada penyajiannya yang tidak panjang lebar tetapi tidak megurangi nilai keilmiahannya.

Artikel ilmiah bukan sembarangan artikel, dan karena itu, jurnal-jurnal ilmiah mensyaratkan aturan sangat ketat sebelum sebuah artikel dapat dimuat. Pada setiap komponen artikel ilmiah ada pehitungan bobot. Karena itu, jurnal ilmiah dikelola oleh ilmuwan terkemuka yang ahli dibidangnya. Jurnal-jurnal ilmiah terakredetasi sangat menjaga pemuatan artikel. Akredetasi jurnal mulai dari D, C, B, dan A, dan atau bertaraf internasional. Bagi ilmuwan, apabila artikel ilmiahnya ditebitkan pada jurnal internasional, pertanda keilmuawannya ‘diakui’.

3. Disertasi

Pencapaian gelar akademik tertinggi adalah predikat Doktor. Gelar Doktor (Ph.D) dimungkinkan manakala mahasiswa (S3) telah mempertahankan disertasi dihadapan Dewan Penguji Disertasi yang terdiri dari profesor atau Doktor dibidang masing-masing. Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci.

Disertasi atau Ph.D Thesis ditulis berdasarkan metodolologi penelitian yang mengandung filosofi keilmuan yang tinggi. Mahahisiswa (S3) harus mampu (tanpa bimbingan) menentukan masalah, berkemampuan berpikikir abstrak serta menyelesaikan masalah praktis. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.

Sumber : https://intergalactictravelbureau.com/stickman-destruction-3-apk/

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah

Metode Ilmiah
Metode Ilmiah

I. Definisi Metode Ilmiah

a. Pengertian Metode

Metode dapat diartikan sebagai sebuah cara yaitu cara yang teratur dan sistematis untuk mencapai maksud dan tujuan tertentu.

b. Pengertian Ilmiah

Ilmiah : bersifat ilmu; secara ilmu pengetahuan; memenuhi syarat (kaidah) ilmu pengetahuan. Diatur oleh atau sesuai dengan prinsip-prinsip ilmu pasti: prosedur ilmiah. Sistematis atau akurat dalam cara ilmu pasti.

c. Pengertian Metode Ilmiah

Metode ilmiah atau proses ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.

d. Pengertian Metode Ilmiah menurut Para ahli

Menurut Almadk (1939),” metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran.
Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesuatu interelasi.

 

II. Kriteria Metode ilmiah

Kriteria Metode Ilmiah

1. Berdasarkan fakta

Keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulan ataupun yang akan dianalisa harus berdasarkan fakta-fakta yang nyata, jangan berdasarkan pada daya khayal, kira-kira, legenda-legenda, atau sejenisnya.

2. Bebas dari prasangka

Harus mempunyai sifat bebas prasangka, bersih dan jauh dari pertimbangan subjektif.

3. Menggunakan prinsip-prinsip analisis

Semua masalah harus dicari sebab musabab serta pemecahannya dengan menggunakan analisa yang logis. Semua kejadian harus dicari sebab-akibat dengan menggunakan analisa yang tajam.

4. Perumusan masalah, antara lain dengan menyusun hipotesis

Hipotesa digunakan untuk memandu jalan pikiran ke arah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran yang tepat.

5. Menggunakan ukuran obyektif

Ukuran yang digunakan tidak boleh dengan mengandalkan merasa-rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan-pertimbangan harus dibuat secara objektif dengan pikiran yang waras.

6. Menggunakan teknik kuantitatif dan atau kualitatif

Data yang didapat menggunakan data ukuran kuantitatif, contoh ton, mm, ohm, kilogram, dan sebagainya, jangan menggunakan ukuran seperti sejauh mata memandang, sehitam aspal, dan sebagainya.

 

III. Tujuan Metode Penelitian

 

Tujuan metode ilmiah adalah untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional dan teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Selain itu metode ilmiah bertujuan untuk

a. Mengorganisasikan suatu fakta.

b. Dapat mengaitkan fakta-fakta yang menjadi kajian.

c. Merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis.

Sumber : https://intergalactictravelbureau.com/pikes-io-apk/

Gambaran Umum Program MapInfo

Gambaran Umum Program MapInfo

Gambaran Umum Program MapInfo

Gambaran Umum Program MapInfo
Gambaran Umum Program MapInfo

1) Instalasi MapInfo

Perangkat lunak MapInfo diinstal ke sistem komputer dilakukan menurut urutan sebagai berikut  :

Klik Start, lalu klik Run

  • Tempatkan CD didalam CD-ROM drive
  • Ketik [Alamat CD-ROM drive]:Setup, lalu tekan Enter
  • Masukkan Nama, nama perusahaan, dan serial number. Lalu klik Continue
  • Pilih Sistem instalasi program yang dipilih. Ada dua pilihan yaitu :

Stand Alone : Bilamana MapInfo akan diinstal pada komputer tunggal, bukan komputer yang terhubung dalam sistem network.
Network Server : Install ini tidak dimaksudkan untuk membuat konfigurasi server untuk menjalankan MapInfo, tetapi hanya mengkonfigurasi server untuk bertindak sebagai server bagi workstation lain.

  • Pilih Jenis Install yang ingin dilakukan pada system komputer. Ada dua macam jenis install yang dapat dilakukan, yaitu :

Standard Installation : Program install akan menginstall program secara standard: MapInfo, File Help, Tutorial, MapBasic tools dan Data Sample
Custom Installation : Pemakai dapat memilih program apa saja yang akan diinstall khususnya untuk mengurangi program atau file yang tidak dibutuhkan guna menghemat kapasitas hard disk.

  • Untuk Standard Installation, pilih directory dimana program group MapInfo akan disimpan dan juga tentukan path-nya, lalu klik Next. Sedangkan untuk Custom Installation, Pilih file yang akan diinstall lalu pilih Directory dimana program MapInfo akan disimpan, lalu klik Next.
  • Jika muncul “ Installation Succesful”, maka program install sudah selesai, lalu klik OK.

Sedangkan bilamana ODBC support juga akan diinstal, khususnya untuk mendapatkan kemampuan MapInfo agar dapat melakukan “Link” dengan sistem database lain, maka langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

Pilih Custom Installation, lalu klik Next untuk memunculkan Custom Dialog.
• Pada “Custom Installation Dialog” pilih ODBC Support
• MapInfo akan menginstall ODBC Support. Untuk Win32, maka installler juga akan menginstall MapInfo ODBC Driver Installer.
• Jalankan MapInfo ODBC Driver Installer untuk menampilkan MapInfo ODBC Driver Installation Dialog.
• Klik drivers yang akan diinstall
• Klik Next, drivers terpilih dan ODBC 3.0 akan terinstall.

Sumber : https://synthesisters.com/journey-apk/

GIS menggunakan Perangkat Lunak MapInfo

GIS menggunakan Perangkat Lunak MapInfo

GIS menggunakan Perangkat Lunak MapInfo

GIS menggunakan Perangkat Lunak MapInfo
GIS menggunakan Perangkat Lunak MapInfo

MapInfo sebagai salah satu perangkat lunak yang digunakan untuk melakukan kegiatan GIS mempunyai kelebihan sekaligus kekurangan dibandingkan perangkat lain yang sejenis seperti ArcInfo, ER Mapper, Spans, Erdas, dan lain-lain. Kelebihan MapInfo dibandingkan dengan perangkat lunak lain adalah kemampuan proses databasenya termasuk proses SQL query yang tidak ada di perangkat lain. Sementara kekurangannya adalah tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan analisa overlay spatial seperti ArcInfo, tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan proses raster to vector menggunakan algoritma tertentu seperti halnya pada ER Mapper.

Kemampuan MapInfo antara lain adalah sebagai berikut.

  • Dapat membuka file dBASE, FoxBASE, ASCII, Lotus 1-2-3 dan Microsoft Excel secara langsung.
  • Mempunyai kemampuan melakukan import file grafis dalam berbagai macam format.
  • Fungsi fungsi database dapat dilakukan secara langsung di dalam program MapInfo
  • Mempunyai berbagai macam kemampuan tampilan, yaitu : Map, Browser, dan Grafik. Selain itu juga dapat secara bersamaan menampilkan sekaligus beberapa file dan melakukan updating data secara otomatis bilamana pada tampilan lain ada data yang dirubah.
  • Dapat melakukan akses database seperti Oracle maupun SyBase menggunakan table yang di”link” ke MapInfo.
  • Dapat membuat suatu tampilan beberapa file (layer) seolah-olah menjadi satu layer (Seamless layer).
  • Mempunyai kemampuan untuk membuat peta berdasarkan tema tertentu (thematic map) dengan berbagai macam tipe dan template tematik dengan menggunakan atribut data yang ada pada obyek layer yang bersangkutan.
  • Mempunyai kemampuan untuk menampilkan data raster yang sesuai dengan sistem koordinat yang dipakai menggunakan metoda register dan ditampilkan sebagai background data vektor (data raster adalah data non atribut).
  • Mempunyai kemampuan query data untuk file (layer) tunggal dengan kriteria tertentu, bahkan mampu melakukan SQL Query yang melibatkan banyak file (layer) untuk mendapatkan analisa berdasarkan kriteria tertentu.Kemampuan untuk membuat workspace yang akan menyimpan semua setting dan tampilan baik map, browser, maupun grafis dan membukanya kembali di lain waktu, dimana kesemuanya akan ditampilkan dengan setting yang sama saat disimpan dalam workspace.
  • Mampu melakukan OLE (Object Linking and Embedding) map window ke sistem aplikasi lain.
  • Mempunyai sistem perintah yang komprehensif yang ditampilkan dalam bentuk icon maupun pull down menu.
  • Menyediakan ribuan peta siap pakai yang sudah jadi dan fungsi yang memungkinkan untuk membuat peta lain berdasarkan peta tersebut.
  • Mempunyai kemampuan untuk menampilkan layout window, yaitu suatu tampilan yang akan digunakan untuk mengatur tata letak dan scala peta serta browsernya dan selanjutnya dicetak menggunakan media printer atau plotter.
  • Mempunyai kemampuan untuk mengubah sistem proyeksi peta ke berbagai sistem proyeksi lain dengan datum yang berbeda dan menampilkannya di layar tampilan ataupun digunakan pada saat melakukan digitasi.

Sumber : https://synthesisters.com/nostalgia-nes-pro-apk/

Reformasi Sambil Onani

Reformasi Sambil Onani

Reformasi Sambil Onani

Reformasi Sambil Onani
Reformasi Sambil Onani

Hari ini sepuluh tahun lalu. Para aktivis menyambut jatuhnya Rezim Orde Baru dengan gegap gempita. Sorak sorai bergemuruh di mana-mana. Di ibu kota dan di kota-kota kecil, di sekitar istana dan di kampus-kampus, di ruang lobi hotel dan di warung-warung kopi, di ruang paviliun dan di sekitar ponten terminal, di sela jlepitan koper dan di balik jahitan kutang. Pokoknya di seluruh jagad angkasa nusantara hingga ke liang lahat.

Sebuah tonggak sejarah baru bagi kehidupan bangsa. Sebuah sirine yang menandai makin dekatnya tatanan demokratis yang telah diimpi-impikan selama bertahun-tahun. Dan sebuah harapan baru yang dipercaya dapat mengobati luka lama akibat ketidakadilan dan penindasan yang menjadi nafas kehidupan. Seolah-olah bangsa ini baru saja menemukan “tuhan” baru yang hanya dengan kata sim salabim dapat merubah segalanya menjadi lebih baik.

Inikah awal kehidupan baru ? Ataukah ini justru menjadi anti klimaks dari serpihan idealisme yang disulam selama bertahun-tahun ? Atau sebuah orgasme akibat persetubuhan nafsu demokrasi dan anti demokrasi yang bergelora dan berguling-guling di atas kasur kediktatoran berdinding intimidasi dan senjata ?

Bertahun-tahun, para aktivis mahasiswa melakukan pembusukan terhadap kekuasaan yang anti demokrasi. Pada saat yang bersamaan, para aktivis menyuntikkan virus-virus idealisme ke pantat rekan-rekannya yang sudah mulai keropos dan nyaris dirubung semut. Perlahan virus-virus idealisme itu mulai menggelitik dan mengacak-ngacak tatanan pikir yang sebenarnya sudah mulai mapan.

Beragam argumentasi terus diselipkan. Mulai dari bagaimana membaca situasi yang sedang berkuasa pada saat itu. Hingga upaya hipnotis untuk menggerakkan pilihan politik pada satu titik yang dinamakan demokrasi. Setumpuk dogma dijejalkan ke mulut setiap mahasiswa dan baru akan berhenti jika dia dengan penuh kesadaran bersedia meneriakkan “Turunkan Soeharto (alm) “.

Dan, para aktivis yang mengaku sudah memperoleh “wahyu” pencerahan dengan sigap segera mengambil posisi. Yakni sebagai agent of change. Sebuah posisi yang tidak pernah memberikan tempat sejengkal pun atas tindakan yang anti demokrasi serta orang-orang yang tidak pro rakyat. Tak heran jika pada saat itu mulai bermunculan “nabi-nabi” sosial yang berdakwah di kampus-kampus. Para aktivis yang menjadi “nabi-nabi” sosial ini merasa telah ditunjuk oleh Tuhan untuk membisikkan kesadaran ke telinga-telinga yang selama bertahun-tahun tersumpal debu.

Sepuluh tahun sudah berlalu. Tapi hari ini, kain bendera di halaman rumah kita masih tetap lusuh. Garuda yang bertengger di atas jutaan kepala bangsa ini pun tidak bisa terbang karena belum punya sayap yang kuat. Dan kabar dari Pak Lurah mengatakan bahwa belasan warganya hanya bisa mengisi perutnya dengan gumpalan asap kendaraan bermotor yang hitam pekat.

Putaran tasbih seorang pertapa di puncak gunung pun terhenti. Buru-buru dia mengambil handphone dari mobil Mercedez-nya yang diparkir tak jauh dari padepokannya. Dia pun mengirim sms kepada Tuhan. Isinya : “Tuhan…kenapa kondisinya masih sama seperti dulu ? Apakah karena mantera-Mu sudah tidak ampuh lagi ? Bukankah sepuluh tahun lalu jutaan orang meneriakkan perubahan ? Dan bukankah dulu Engkau menunjuk ratusan aktivis sebagai nabi-nabi sosial ? Lalu kemana mereka ?.

Mungkin karena sedang mengalami gangguan jaringan, setengah jam kemudian Tuhan baru membalas sms dari sang pertapa tersebut. “Ketahuilah, bahwa nabi-nabi sosial yang telah Ku tunjuk itu sekarang sudah terbagi dalam dua rombongan. Yang satu menuju selatan dan yang satu lagi menuju utara,” tulis-Nya.

Sang pertapa pun penasaran. Dengan bantuan fitur GPS yang ada di handphone Nokia 6110 Navigator miliknya, sang pertapa berusaha mencari arah yang disebutkan tadi. Ternyata, satu rombongan yang bergerak ke selatan itu sedang mengarah ke Kota Tempo Doeloe. Yakni sebuah kota yang dipenuhi dengan ketidakadilan, penindasan, intimidasi dan teror. Warganya tergolong taat dan patuh pada azas yang menjunjung tinggi nilai-nilai KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme).

Di sepanjang jalan, rombongan ini mencopet, mencuri, menggarong, menjarah, dan merampok setiap orang yang ditemuinya. Mereka bahkan juga meniduri dan memperkosa setiap simbol-simbol demokrasi yang tertancap di pinggir jalan. “Ini demi kepentingan rakyat. Hidup rakyat,” teriak mereka sambil terus membangun komunikasi dengan warga di Kota Tempo Doeloe yang pernah dicaci habis-habisan sepuluh tahun lalu. Di sela-sela perjalanan, para pemimpin rombongan ini sibuk menyiapkan rasionalisasi atas rute perjalanan yang dipilihnya.

Rombongan satunya lagi, sedang bergerak menuju menuju Kota Romantisme. Di kota ini, katanya, banyak menyajikan hal-hal yang berbau kejayaan masa lampau. Medianya cukup beragam. Ada film, foto, gambar, artifak serta lain-lainnya. Berbeda dengan rombongan tadi, peserta konvoi dari rombongan ini terlihat lebih santun.

Saking santunnya, mereka tidak mau intervensi terhadap seorang gadis yang sedang diperkosa orang sekampung secara ramai-ramai. Rombongan ini hanya menyapa dengan senyum sambil berlalu kepada setiap anak-anak miskin yang meminta sebagian rupiah yang dibundeli di dalam tumpukan koper berisi segepok duit milik peserta konvoi. Dan, rombongan ini juga penuh tepo seliro ketika melihat seorang pencuri yang sedang beraksi.

Sesekali rombongan ini berhenti di beberapa kota yang dilaluinya. Di tempat peristirahatan sementara itu, mereka membuka jasa konsultasi gratis. Khususnya menyangkut masalah bagaimana kiat-kiat menjadi “nabi” sosial. Di akhir konsultasi, tak lupa diselipkan sebuah penegasan bahwa semua peserta konvoi tersebut adalah para “nabi” sosial yang dulu sudah berhasil menancapkan tonggak sejarah Era Reformasi. Meski mukjizat mereka sebenarnya sudah hilang karena dirampas oleh petugas Brimob saat mengikuti demo di tahun 1998.

Tiba-tiba seorang kawan menyeletuk, “Anda ikut rombongan yang mana ?” Saya pun sempat kaget. “Lha saya kan sedang buat tulisan ini,” jawab saya singkat. Tak mau menyerah, kawan tadi melanjutkan pertanyaannya. “Ya, tapi nanti kalau sudah selesai mau ikut rombongan yang mana,” tanyanya lagi. Saya jawab, “Lha wong pendaftarannya sudah ditutup”.

Baca Juga :

Lha … lak thekor aku !!!

Lha … lak thekor aku !!!

Lha … lak thekor aku !!!

Lha … lak thekor aku !!!
Lha … lak thekor aku !!!

Pagi itu Totok duduk selonjor di emperan halaman rumah saya. Ia duduk tepat di samping sepeda motornya yang sedang membonceng dua keranjang penuh sayuran. “Sayur-sayur” teriaknya sembari mengelap tetesan keringat yang meluncur menelusuri ruas wajahnya.

Ya, Totok adalah tukang sayur yang setiap pagi melintas di gang rumah. Usianya sekitar 30 tahunan. Karena sudah langganan, saya pun tahu dari istri bahwa dia sudah beranak dua. Yang pertama SMP, dan yang kedua masih duduk di bangku SD.

Entah kenapa, pagi itu tiba-tiba nalar saya menggelitik untuk mencari korelasi antara Totok dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Sudah bisa ditebak, yang terlintas di pikiran saya hanya ada satu. Yakni sebuah justifikasi yang dilandasi sikap pesimis sehingga menempatkan Totok sebagai korban yang terabaikan.

Totok, barangkali, adalah sebuah deskripsi dari kesengsaraan wong cilik. Bagaimana tidak ? Yuk, kita hitung bareng-bareng. Tapi jangan dibayangkan ilmu yang akan kita pakai untuk menghitung adalah ilmu beneran seperti layaknya seorang pakar ekonomi atau jago hitung dari perguruan menara gading. Tidak. Ini hanyalah ilmu goblok-goblokan ala warung kopi.

Untuk menghidupi keluarganya, Totok hanya mengandalkan hasil dari berjualan sayur. Dengan kata lain, keuntungan dari berjualan sayur adalah satu-satunya sumber penghasilan baginya. Taruhlah Totok adalah satu-satunya pedagang sayur yang paling mujur sedunia karena bisa meraup laba Rp 1 juta perhari
(wuik .. ngalah-ngalahne dodolan hp). Berarti sebulan Totok bisa mengantongi Rp 30 juta.

Sekali lagi, berjualan sayur adalah satu-satunya penghasilan bagi Totok. Padahal, lubang pengeluaran sangat banyak. Dari uang Rp 30 juta itu, Rp 20 juta diberikan kepada istrinya untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Seperti beli beras, minyak goreng, gas elpigi, sabun mandi, sikat, odol, sabun cuci, sampai
beli pembalut untuk istrinya ketika sedang kedatangan tamu.

Sisa Rp 10 juta. Yang Rp 5 juta dialokasikan untuk kedua anaknya. Digunakan untuk membayar uang SPP sekolah, buku tulis, buku pelajaran, pensil, penghapus, dan lain-lain. Juga termasuk uang jajan untuk beli pentol cilot, tempura, arbanat, jireng, pop ice, ice cream, es lilin sampai mainan anak-anak. Sebagian
lagi untuk biaya langganan antar jemput sekolah bagi kedua anaknya.

Masih sisa Rp 5 juta. Totok memanfaatkan sisa uangnya untuk membayar tagihan listrik, air, telepon, PDAM, bayar asuransi, biaya langganan TV Kabel, tagihan Telkom Speedy sampai tagihan kartu kredit. Ludes sudah uang hasil jualan sayur sebanyak Rp 30 juta.

Tiba-tiba, pemerintah menaikkan harga BBM. Sebagaimana tradisi sebelumnya, kenaikan harga BBM selalu diikuti kenaikan harga-harga lainnya. Hanya satu yang tidak terpengaruh kenaikan harga BBM, yakni harga diri. Dari jaman nenek moyang sampai era globalisasi ini, harga diri bangsa ini ya segitu-segitu aja.

Suatu hari, kedua anaknya menghadap ke Totok. “Pa, mulai besok jatah uang kami berdua harus dinaikkan. Minimal Rp 10 juta. Pokoknya harus”,kata anaknya yang sulung.

Totok segera meminta klarifikasi kepada kedua anaknya. Kedua anaknya pun menyerahkan satu bendel proposal kepada Totok. Buru-buru Totok menyambar bendelan proposal itu dan langsung mempelajarinya. Ternyata, sejak pemerintah menaikkan harga BBM, uang SPP otomatis ikut naik. Harga buku tulis naik, buku
pelajaran naik, pensil naik, penghapus naik. Begitu juga di pos belanja makanan dan minumunan. Harga pop ice naik, ice cream naik, pentol cilot naik, tempura naik, arbanat naik, jireng apalagi. Tak mau ketinggalan biaya langganan antar jemput sekolah juga ikut naik.

Belum selesai Totok lenger-lenger, istrinya datang dan langsung melemparkan proposal yang tebalnya dua kali lipat. “Mulai bulan depan, jatah bulanan harus di atas Rp 35 juta”,tukas istrinya.

Apa-apaan ini ? Begitu pikir Totok. Dia pun buru-buru membaca lembar demi lembar proposal yang disusun istrinya. Harga beras naik, kecap naik, minyak goreng naik, gas elpiji naik, sabun mandi naik, sabun cuci naik, sikat naik, odol naik. Termasuk roti tawar kesukaan istrinya alias pembalut juga naik.

Totok hanya terdiam. Sesaat kemudian dia mengambil laptop dan menyalakannya. Ia berusaha mempelajari pembukuan hasil jualan sayurnya. Dulu, harga kulakan iwak tongkol cuman Rp 2.000. Dijual Rp 3.000. Berarti untung Rp 1.000. Tapi sekarang, kulakannya jadi Rp 3.000. “Saya jual Rp 4.000. Berarti untung saya tetap Rp 1.000 dong”, pikirnya.

Lalu Totok mengintip pergerakan harga lombok. Dulu, kulakannya Rp 6.000 dijual Rp 8.000. Berarti untungnya Rp 2.000. Tapi sejak BBM naik, kulakannya saja jadi Rp 9.500. “Tapi tadi tak kasih ke Bu Pardi Rp 11.500. Nah, untung saya tetap Rp 2.000. Lha wong coba saya tawarkan Rp 12.000 banyak yang mencak-mencak”, Totok mengernyitkan dahi.

Totok semakin berpikir keras. Ia jadi teringat pelajaran sewaktu ambil program S3 di Havard University. Ia berusaha membuat sebuah kesimpulan. Kalau dulu sebelum BBM naik, omzet penjualannnya Rp 100 juta perbulan. Dari angka itu dapat untung Rp 30 juta perbulan. Nah sekarang, omzetnya naik tajam hingga menembus Rp 175 juta perbulan.

“Tapi, untung saya tetap Rp 30 juta perbulan. Berarti kenaikan BBM hanya akan menaikkan omzet. Tapi tidak menaikkan laba. Padahal, kebutuhan naik ga karuan. Istri yang dulu hanya diberi Rp 20 juta perbulan sekarang minta Rp 35 juta perbulan. Anak yang dulu saya beri Rp 5 juta sekarang minta Rp 10 juta perbulan.
“Lha …. lak thekor aku”, teriak Totok.

Ya, sekali lagi Totok hanyalah deskripsi khayalan saya tentang sosok wong cilik yang memilih jalan berdagang. Bahwa ternyata, kenaikan harga BBM hanya akan menaikkan omzet penjualan saja. Tapi tidak menaikkan profit. Kalaupun ada kenaikan profit, jelas prosentasenya relatif lebih kecil dibandingkan pergerakan harga kebutuhan yang harus dikeluarkan.

Asumsi ini bisa dibenarkan. Mengapa ? Sebab sekalipun harga kulakan mengalami lonjakan, tapi untuk mendapatkan profit margin yang lebih besar, pedagang akan berpikir seribu kali. Sebab, dia harus berhadapan dengan para pembeli yang sudah dipusingkan oleh kenaikan harga. Apalagi di tengah sengitnya persaingan bisnis, menaikkan harga yang dilatarbelakangi motivasi untuk menaikkan profit margin,
jelas bukan pilihan yang tepat untuk bisa survive. Akan sangat berbeda jika kenaikan harga disebabkan naiknya harga kulakan dengan asumsi profit margin yang tetap. Pilihan ini akan lebih bisa diterima konsumen.

Jika ilmu goblok-goblokan ini bisa diuji kebenarannya secara ilmiah, berarti hakekatnya Totok sedang bergerak menuju garis kemiskinan. Apalagi jika Totok hanya berpangku tangan dengan bersandar pada rutinitas yang selama ini dilakukan, asumsi ini tentu saja semakin mendekati kebenaran. Artinya lagi,
jumlah warga miskin akan semakin bertambah dari tahun ke tahun.

Saya teringat lagunya Rhoma Irama. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin”. Pada saat bersamaan, lamunan saya tentang kemiskinan pun menghilang. Ketika itu saya sadari bahwa Totok yang tadinya beristirahat di emperan halaman rumah sudah pergi menjajakan dagangannya. Yang tersisa di emperan halaman rumah saya hanyalah semangat Totok yang sedang bercengkerama dengan ancaman kemiskinan yang semakin dekat.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/kendall-kylie-apk/

NU balik lagi jadi parpol ?? No way

NU balik lagi jadi parpol ?? No way

NU balik lagi jadi parpol No way
NU balik lagi jadi parpol No way

Seiring dengan berulang dan berulangnya kembali konflik elit pimpinan PKB, muncul wacana agar NU kembali menjadi parpol. Alasannya, keberadaan PKB belum terlalu dirasakan manfaatnya buat NU, malah sekarang sudah keempat kalinya terjadi konflik di pucuk pimpinan PKB — dimana ini dirasa memalukan dan mencoreng nama dan citra NU sebagai lembaga yang membidani kelahirannya. Tulisan ini sebenarnya adalah salah satu postingan kami di milis NU ANZ, yang beberapa waktu lalu ramai mendiskusikan hal ini. Semoga bermanfaat.

Wacana NU kembali menjadi parpol menurut saya adalah kemunduran. Belum tentu ketika NU menjadi parpol, maka konflik-konflik serupa tidak akan terjadi. Bahkan di saat NU mau menegaskan khittahnya, sejarah mencatat lahirnya PBNU tandingan pimpinan Abu Hasan di tahun 1994. Lebih jauh, ketika NU menjadi parpol lagi, mau dikemanakan kader-kader potensial NU yang tidak mau masuk ke wilayah politik praktis dan hanya mau berkhidmat kepada masyarakat melalui payung besar organisasi NU?. Saya kira ketika NU menjadi parpol, mereka-mereka ini akan merasa kehilangan “rumah”nya yang bisa ditinggali dan dikunjungi siapa saja, tanpa pandang ideologi dan keberpihakan politiknya.

Terkait dengan konflik di PKB, saya kira dinamika yang terjadi saat ini adalah wajar-wajar saja … lha memang wadahnya politisi. Partai sebagai lembaga untuk berebut kekuasaan memang secara alamiah kental dengan konflik. Isu-isu seputar siapa mendapat apa dan berapa besar adalah hal yang memang bagiannya politik praktis. Kalau NU masuk ke wilayah ini,  kerja-kerja  riil pemberdayaan masyarakat bisa-bisa malah terabaikan. Dakwah Islam ala wali songo yang moderat dan sejuk bisa-bisa menjadi sarat kepentingan terkait kekuasaan. Nilai nilai keihlasan bisa campur aduk dengan pamrih-pamrih kekuasaan jangka pendek.

Akan tetapi, jika dilihat dari usia PKB yang sudah cukup matang secara organisasi, kapabilitas manajemen konflik yang diperlihatkan para petinggi PKB memanglah agak konyol. Apakah belum cukup pelajaran konflik dengan Matori, Alwi Shihab, Cak Anam, ataupun Gus Ipul, untuk melembagakan mekanisme manajemen konflik partai yang bisa membawa citra positif pada konstituen dan masyarakat umum?. Ataukah ini memang sudah takdirnya NU dan para elitnya?. (Ini bercermin pada banyaknya kasus gagapnya orang NU ketika dihadapkan pada kekuasaan dan harta — lihat saja perebutan kekuasaan di pondok-2 besar di lingkungan NU, berebut yayasan pendidikan dengan omzet miliaran rupiah dll yang sudah sangat biasa). Fenomena ini sungguh sangat memprihatinkan. Di satu sisi, elit NU kebanyakan adalah keturunan kiyai besar yang dikenal karomah, amanah, wara’ dan istiqomah. Elit-elit tersebut sudah mengenyam ribuan doktrin ahlaq dan fiqih, tapi kenapa kok gagap ketika mengimplementasikan nya di hadapan kekuasaan dan harta. Saya kira salah satu kultur yang menjadi akar konflik-konflik di PKB adalah kultur semacam ini.

Menurut saya, melahirkan PKB sebagai wadah politik orang NU adalah langkah paling rasional bagi NU saat itu. Pernyatan beberapa orang bahwa warga NU kena getahnya tapi nggak dapat nangkanya dari PKB juga kurang tepat. Soalnya saya tahu sendiri, bahwa di banom-banom NU di tingkat ranting dan MWC, “nangka” yang dimaksud orang-orang itu juga sedikit banyak dirasakan oleh mereka. Saya nggak ngerti kalau di tingkatan Cabang dan pusat, apakah mereka juga mendapat “nangka” yang lebih besar atau getahnya saja. Atau gara-gara ikut kecipratan “nangka” subhat dari dunia politik semacam itu akhirnya menjadikan PKB dan sebagian organ NU tidak barokah, sehingga penuh konflik, wallahu a’lam.

PKB adalah fakta sejarah bagi organisasi NU, adalah pilihan politik yang bijak ketika arus deras demokrasi menyeret-nyeret NU dan warganya masuk ke wilayah politik praktis setelah reformasi 1998. Menyangkal kaitan PKB dengan NU adalah konyol secara organisatoris. Nah ketika PKB saat ini carut marut, bagi siapa saja yang mengaku sebagai orang NU dan dulu mendukung keputusan organisatoris NU tersebut, terhamparlah dua pilihan politik. Tidak mau pusing-pusing lagi dengan PKB dan segala tetek bengeknya, atau turut membantu memperbaiki dan membesarkan PKB. Toh di NU yang terkenal demokratis, perbedaan pilihan semacam itu adalah biasa dan nggak dianggap dosa.

Turut membantu memperbaiki dan membesarkan PKB tidak harus menjadi pengurus partai atau masuk ranah politik praktis. Dengan sumbang saran dan pemikiran yang positif sebagai cendekiawan, atau ikut melakukan pengawasan terhadap parlemen, atau mendidik masayarakat agar melek politik juga merupakan bentuk keberpihakan politik yang bertanggung jawab. Atau turut mendoakan saja, agar para elit NU dan PKB selalu dibimbing Gusti Allah dalam menjalankan amanahnya adalah bentuk kepedulian yang nyata.

Saya kira, satu hal yang patut direnungkan adalah sejauh mana kita ini memiliki kesadaran berpolitik. Sejauh mana pemahaman kita akan pentingnya keberpihakan politik. Di saat kita apatis dan menjauh dari politik, kelompok lain sudah punya ancang-ancang 25 tahun ke depan atas peta kekuasaan di negeri kita. Road map kebijakan publik 25 tahun ke depan sudah mereka rancang dan dijalankan. Kita yang biasa sibuk menyalahkan saudara-saudara kita sendiri di lingkungan NU, dan jarang berbuat apa-apa, akan tergagap-gagap ketika DPR dan MPR nanti didominasi anak-anak muda yang punya ideologi pan Islamisme. Kita akan tergagap-gagap ketika satu demi satu perda dan undang-undang berbasis syariah ditetapkan. Kita cuman akan bisa mendongkol ketika uang pajak yang dipotong dari gaji kita digunakan untuk membiayai operasional polisi syariat.

Ketika itu terjadi, para intelektual NU yang lebih suka bergerombol di LSM-LSM akan hanya bisa berteriak di luar sistem. Padahal demokrasi sudah dikuasai orang lain. Atas nama demokrasi yang kita dukung itu, mereka tentu berhak mengatur bulat lonjongnya negeri kita karena mereka penguasa legislatif dan eksekutif. Sedangkan kita sibuk berantem, sebagian yang lain sibuk mentertawakan dan menghina yang berantem tanpa berbuat apa-apa. Di saat kita menyadari itu semua, dan mau bersatu … saya kira semuanya akan terlambat. Marilah kita sadar kawan, bahwa keberpihakan itu adalah suatu keharusan. Kita nggak harus berpihak ke PKB, tapi janganlah tidak berpihak kepada NU dan segala idenya tentang Islam yang rahmatan lil ‘alamin, tentang hubungan negara dan agama, tentang cita-citanya membangun Indonesia yang berahlak diatas pluralisme.

Kalau NU saat ini masih terseok-seok ya mari dibantu. Jangan karena alasan, saya di NU nggak pernah diorangkan lantas tidak mau membantu NU. Atau alasan lain misalnya, “NU itu sudah terlalu banyak orang pinter jadi nggak butuh saya”, lantas nggak peduli dengan NU. Padahal pada kenyataannya, NU itu kekuarangan SDM yang profesional, yang berahlak mulia, yang tanpa pamrih ingin melihat NU besar dan barokah. Lebih-lebih, saya kira NU kekurangan kader yang militan. Militan bukan dalam artian bersedia maju perang ketika NU diserang, tapi militan yang mau bersusah-susah membangun NU secara istiqomah, meskipun dari kelompok-kelompok kecil.

Sudah banyak orang yang meninggalkan NU karena nggak tahan melihat pengurusnya atau organisasinya yang nggak beres. Dan banyak juga para professional anak orang NU yang nggak mau ikut-ikut ngurusi NU karena alasan yang sama. Saya kira dua hal ini adalah salah satu akar masalah kenapa NU beserta banom-banomnya nggak beres-beres secara organisatoris. NU butuh anda, NU butuh tenaga-tenaga dan pikiran-pikiran muda yang idealis, yang belum terkotori oleh kotoran kepentingan sesaat. Semakin banyak orang baik yang mau ngurusi NU, semakin baik NU itu secara organisasi. Kalau wimar punya slogan “promoting good guys” mengapa kita nggak menjalankan “encouraging good guys to care about NU”.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/speed-legends-apk/

Berhentilah Jadi Gelas

Berhentilah Jadi Gelas

Berhentilah Jadi Gelas
Berhentilah Jadi Gelas

Seorang guru sufi mendatangi seorang muridnya ketika
wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.

“Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang
indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu? ”
sang Guru bertanya.

“Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi
saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada
habis-habisnya, ” jawab sang murid muda.

Sang Guru terkekeh. “Nak, ambil segelas air dan dua genggam
garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu.”
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan
permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan
garam sebagaimana yang diminta.

“Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air
itu,” kata Sang Guru. “Setelah itu coba kau minum airnya
sedikit.” Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis
karena meminum air asin.

“Bagaimana rasanya?” tanya Sang Guru.

“Asin, dan perutku jadi mual,” jawab si murid dengan wajah
yang masih meringis.

Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang
meringis keasinan.

“Sekarang kau ikut aku.” Sang Guru membawa muridnya ke
danau di dekat tempat mereka. “Ambil garam yang tersisa,
dan tebarkan ke danau.” Si murid menebarkan segenggam garam
yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya
belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya,
tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan
mursyid, begitu pikirnya.

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” kata Sang Guru
sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya,
tepat di pinggir danau.

Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau,
dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air
danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya,
Sang Guru bertanya kepadanya, “Bagaimana rasanya?”

“Segar, segar sekali,” kata si murid sambil mengelap
bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini
berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya
mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti,
air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di
mulutnya.

“Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan
meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum
memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau
sampai puas.

“Nak,” kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum.
“Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam.
Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya
masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang
kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk
dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak
berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke
dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia,
walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan
masalah.”

Si murid terdiam, mendengarkan.

“Tapi Nak, rasa `asin’ dari penderitaan yang dialami itu
sangat tergantung dari besarnya ‘qalbu'(hati) yang
menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita,
berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi
sebesar danau.”

Sumber : https://jilbabbayi.co.id/battle-islands-apk/

When we (read:women) say these…

When we (read women) say these...

When we (read:women) say these…

When we (read women) say these...
When we (read women) say these…

FINE
This is the word women use to end an argument when they are right and you need to shut up.

FIVE MINUTES
If she is getting dressed, this is half an hour. Five minutes is only five minutes if you have just been given 5 more minutes to watch the game before helping around the house.

NOTHING
This is the calm before the storm. This means “something,” and you should be on your toes. Arguments that begin with ‘Nothing’ usually end in “Fine”

GO AHEAD
This is a dare, not permission. Don’t do it.

LOUD SIGH
This is not actually a word, but is a non-verbal statement often misunderstood by men. A “Loud Sigh” means she thinks you are an idiot and wonders why she is wasting her time standing here and arguing with you over “Nothing”

THAT’S OKAY
This is one of the most dangerous statements that a woman can make to a man. “That’s Okay” means that she wants to think long and hard before deciding how and when you will pay for your mistake.

THANKS
A woman is thanking you. Do not question it or faint. Just say you’re welcome.

WHATEVER
It’s a woman’s way of saying *!#@ YOU!

Sumber : https://jilbabbayi.co.id/safari-smash-apk/