Penerapan Prosedur yang Disepakati

Penerapan Prosedur yang Disepakati

Penerapan Prosedur yang Disepakati

Penerapan Prosedur yang Disepakati
Penerapan Prosedur yang Disepakati
Kami telah melaksanakan prosedur yang tercantum dalam paragraf berikut, yang telah disepakati oleh[cantumkan pemakai laporan], semata-mata hanya untuk membantu pemakai dalam mengevaluasi asersi manajemen tentang kepatuhan [sebut nama entitas] dengan [sebut persyaratan tertentu]selama [periode] yang berakhir pada [tanggal], yang dimasukkan dalam [judul laporan manajemen]terlampir. Perikatan prosedur yang disepakati kami laksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Memadainya prosedur ini merupakan tanggung jawab pemakai laporan. Sebagai akibatnya, untuk tujuan laporan ini dan tujuan lain, kami tidak membuat representasi tentang memadainya prosedur yang kami cantumkan berikut ini.
[Cantumkan paragraf yang berisi prosedur dan temuan]
Kami tidak mengadakan perikatan, oleh karena itu, kami tidak melaksanakan pemeriksaan yang tujuannya untuk menyatakan suatu pendapat atas asersi manajemen. Oleh karena itu, kami tidak menyatakan suatu pendapat. Jika kami melaksanakan prosedur tambahan, hal lain mungkin terungkap dan kami laporkan.
Laporan ini semata-mata ditujukan untuk digunakan oleh [daftaratau pengacuan pemakai tertentu] dan tidak harus digunakan oleh pihak yang tidak menyepakati prosedur tersebut dan tidak bertanggung jawab atas memadainya prosedur tersebut untuk mencapai tujuan.
[Tanda tangan, nama rekan, nomor izin akuntan publik, nomor izin kantor akuntan publik]
[Tanggal]

Perikatan Prosedur Yang Disepakati

Perikatan Prosedur Yang Disepakati

Perikatan Prosedur Yang Disepakati

Perikatan Prosedur Yang Disepakati
Perikatan Prosedur Yang Disepakati
Tujuan praktisi dalam perikatan prosedur yang disepakati adalah untuk menyajikan temuan-temuan tertentu yang membantu pemakai dalam mengevaluasi asersi manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern terhadap kepatuhan berdasarkan prosedur yang disepakati oleh pemakai laporan tersebut.
Untuk memenuhi persyaratan bahwa praktisi dan pemakai tertentu sepakat atas prosedur yang telah dilaksanakan atau yang akan dilaksanakan dan pemakai tertentu memikul tanggung jawab atas memadainya prosedur yang disepakati untuk mencapai tujuan, biasanya praktisi harus berkomunikasi langsung dengan dan memperoleh pengakuan dari setiap pemakai tertentu. Sebagai contoh, hal ini dapat diselesaikan dengan mengadakan rapat dengan para pemakai tertentu atau dengan mendistribusikan draft laporan yang diharapkan akan dihasilkan atau copy surat perikatan kepada pemakai tertentu dan meminta persetujuan dari mereka. Jika praktisi tidak dapat berkomunikasi secara langsung dengan seluruh pemakai tertentu, praktisi dapat memenuhi persyaratan tersebut dengan menerapkan satu atau lebih prosedur berikut ini atau prosedur yang serupa:
  1. Bandingkan prosedur yang akan diterapkan dengan persyaratan tertulis dari pemakai tertentu.
  2. Bicarakan prosedur yang akan diterapkan dengan wakil semestinya dari pemakai tertentu yang terkait.
  3. Lakukan review terhadap kontrak yang relevan atau korespondensi dari pemakai tertentu.

 

Untuk memperoleh pemahaman tentang persyaratan yang ditentukan dalam asersi manajemen tentang kepatuhan, praktisi harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
  1. Undang-undang, peraturan, ketentuan, kontrak, dan hibah yang melandasi persyaratan kepatuhan tertentu, termasuk persyaratan yang dipublikasikan.
  2. Pengetahuan tentang persyaratan kepatuhan tertentu yang diperoleh melalui laporan perikatan sebelumnya dan laporan untuk memenuhi peraturan.
  3. Pengetahuan tentang persyaratan kepatuhan tertentu yang diperoleh dari pembicaraan dengan individu semestinya di luar entitas (seperti pejabat pengatur atau spesialis pihak ketiga).

 

Laporan praktisi tentang prosedur yang disepakati yang berkaitan dengan asersi manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan harus dalam bentuk prosedur dan temuan. Praktisi dilarang memberikan keyakinan negatif tentang apakah asersi manajemen disajikan secara wajar. Laporan praktisi harus memuat unsur-unsur berikut ini:
  1. Judul yang berisi kata independen.
  2. Identifikasi pemakai tertentu.
  3. Suatu pengacuan ke asersi manajemen tentang kepatuhan entitas dengan persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan, termasuk periode atau titik waktu yang dicakup oleh asersi manajemen,5 dan sifat perikatan.
  4. Suatu pernyataan bahwa prosedur, yang telah disepakati oleh pemakai tertentu yang disebutkan dalam laporan, telah dilaksanakan untuk membantu pemakai dalam mengevaluasi asersi manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan.
  5. Pengacuan ke standar yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
  6. Suatu pernyataan bahwa memadainya prosedur merupakan tanggung jawab pemakai tertentu dan suatu pernyataan tidak bertanggung jawab tentang memadainya prosedur tersebut.
  7. Daftar prosedur yang telah dilaksanakan (atau pengacuan mengenai hal ini) dan temuan yang bersangkutan.
  8. Jika berlaku, suatu penjelasan adanya batas materialitas yang disepakati.
  9. Suatu pernyataan bahwa praktisi tidak mengadakan perikatan, dan oleh karena itu tidak melaksanakan, suatu pemeriksaan atas asersi manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan, suatu pernyataan tidak memberikan pendapat atas asersi tersebut, dan suatu pernyataan bahwa jika praktisi telah melaksanakan prosedur tambahan, hal lain mungkin terungkap dan akan dilaporkan.
  10. Suatu pernyataan tentang pembatasan atas penggunaan laporan karena laporan tersebut hanya diperuntukkan bagi pemakai tertentu (Namun, jika laporan tersebut merupakan “catatan publik” praktisi harus menambahkan kalimat berikut ini: “Namun, laporan ini merupakan catatan publik dan distribusinya tidak terbatas.”)
  11. Jika berlaku, pembatasan tentang prosedur atau temuan.
  12. Jika berlaku, suatu penjelasan tentang sifat bantuan oleh spesialis.

 

Berikut ini adalah contoh laporan prosedur yang disepakati atas asersi manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau tentang efektivitas pengendalian intern entitas terhadap kepatuhan yang di dalamnya prosedur dan temuan dicantumkan:

Pelaporan Kepatuhan

Pelaporan Kepatuhan

Pelaporan Kepatuhan

Pelaporan Kepatuhan
Pelaporan Kepatuhan
PERIKATAN ATESTASI KEPATUHAN
Kondisi Untuk Pelaksanaan Perikatan
Praktisi dapat melaksanakan suatu perikatan yang berkaitan dengan asersi tertulis manajemen tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau efektivitas pengendalian intern atas kepatuhan jika kedua kondisi berikut ini :
  1. Manajemen menerima tanggung jawab atas kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu dan efektivitas pengendalian intern terhadap kepatuhan.
  2. Manajemen mengevaluasi kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu atau efektivitas pengendalian intern terhadap kepatuhan.
  3. Manajemen membuat asersi tentang kepatuhan entitas terhadap persyaratan tertentu. Jika laporan praktisi dimaksudkan untuk pemakaian umum, asersi tersebut harus dalam bentuk surat representasi kepada praktisi dan dalam laporan terpisah yang akan melampiri laporan praktisi. Jika penggunaan laporan praktisi dibatasi hanya kepada pihak dalam entitas yang bersangkutan dan badan pengatur tertentu, asersi dapat hanya berbentuk surat representasi.
  4. Asersi manajemen dapat dievaluasi dengan menggunakan kriteria yang masuk akal, yang ditetapkan oleh badan yang diakui atau dinyatakan dalam asersi secara cukup jelas dan komprehensif bagi pembaca yang berpengetahuan untuk memahaminya, dan asersi tersebut dapat diestimasi dan diukur secara masuk akal dengan menggunakan kriteria tersebut.
  5. Terdapat bukti yang cukup atau dapat dikembangkan untuk mendukung evaluasi manajemen.

 

Dalam perikatan pemeriksaan, asersi tertulis manajemen dapat mengambil berbagai macam bentuk, namun harus cukup spesifik sehingga pemakai yang memiliki kompetensi dalam memanfaatkan kriteria pengukuran dan pengungkapan yang sama atau serupa dapat mencapai kesimpulan yang secara material sama. Sebagai contoh, asersi yang dapat diterima tentang kepatuhan terhadap persyaratan tertentu dapat berbentuk pernyataan sebagai berikut: “PT KXT mematuhi aturan pembatasan yang ditetapkan dalam paragraf 13, 14, 15, dan 16 a-d, dalam Perjanjian Penarikan Kredit dart Bank Y, bertanggal 1 Januari 20X1, pada tanggal dan untuk periode tiga bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 20X2.” Namun, praktisi dilarang memeriksa suatu asersi yang terlalu luas atau subjektif (sebagai contoh, “PT KXT mematuhi undang-undang dan peraturan yang berlaku untuk aktivitas entitas tersebut atau “PT X cukup mematuhi”) untuk dapat diestimasi atau diukur secara masuk akal.

Definisi Audit Lingkungan

Definisi Audit Lingkungan

Definisi Audit Lingkungan

Definisi Audit Lingkungan
Definisi Audit Lingkungan

Definisi Audit Lingkungan dan Definisi ISO 14001

Audit lingkungan adalah alat pemeriksaan komprehensif dalam sistem manajemen lingkungan. Audit lingkungan merupakan satu alat untuk memverifikasi secara objektif upaya manajemen lingkungan dan dapat membantu mencari langkah-langkah perbaikan guna meningkatkan performasi lingkungan, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan (Bratasida,1996).

Menurut United States Environmental Protection Agency (US EPA), Audit Lingkungan adalah suatu pemeriksaan yang sistematis, terdokumentasi secara periodik dan objektif berdasarkan aturan yang ada terhadap fasilitas operasi dan praktek yang berkaitan dengan pentaatan kebutuhan lingkungan (Tardan dkk, 1997).

Dalam perkembangan selanjutnya audit lingkungan mencakup beberapa bidang antara lain sistem manajemen lingkungan pelaksanaan produksi bersih, pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan dan minimisasi limbah. Audit lingkungan merupakan upaya proaktif suatu perusahaan untuk perlindungan lingkungan yang akan membantu perusahan meningkatkan efisiensi dan pengendalian emisi, polutan yang pada akhirnya dapat meningkatkan citra positif dari masyarakat terhadap perusahaan.

Dasar hukum pelaksanaan audit lingkungan di Indonesia adalah UU RI Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan KEPMEN LH Nomor KEP-42 MENLH/11/1994 Tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan

ISO 14001 adalah standar lingkungan terhadap organisasi yang dinilai. Ini menentukan persyaratan untuk EMS, yang menyediakan kerangka kerja bagi suatu organisasi untuk mengendalikan dampak lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa. Standar lain untuk isu-isu lingkungan hidup adalah ISO 1OOO.

Baca Juga :

Persyaratan Penggunaan Model Regresi

Persyaratan Penggunaan Model Regresi

Persyaratan Penggunaan Model Regresi

Persyaratan Penggunaan Model Regresi
Persyaratan Penggunaan Model Regresi

Model kelayakan regresi linear didasarkan pada hal-hal sebagai berikut:

  1. Model regresi dikatakan layak jika angka signifikansi pada ANOVA sebesar < 0.05
  2. Predictor yang digunakan sebagai variabel bebas harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate < Standard Deviation
  3. Koefesien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Uji T. Koefesien regresi signifikan jika T hitung > T table (nilai kritis)
  4. Tidak boleh terjadi multikolinieritas, artinya tidak boleh terjadi korelasi yang sangat tinggi atau sangat rendah antar variabel bebas. Syarat ini hanya berlaku untuk regresi linier berganda dengan variabel bebas lebih dari satu.
  5. Tidak terjadi otokorelasi. Terjadi otokorelasi jika angka Durbin dan Watson (DB) sebesar < 1 dan > 3
  6. Keselerasan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai r2 semakin besar nilai tersebut maka model semakin baik. Jika nilai mendekati 1 maka model regresi semakin baik. Nilai r2mempunyai karakteristik diantaranya: 1) selalu positif, 2) Nilai r2 maksimal sebesar 1. Jika Nilai r2sebesar 1 akan mempunyai arti kesesuaian yang sempurna. Maksudnya seluruh variasi dalam variabel Y dapat diterangkan oleh model regresi. Sebaliknya jika r2 sama dengan 0, maka tidak ada hubungan linier antara X dan Y.
  7. Terdapat hubungan linier antara variabel bebas (X) dan variabel tergantung (Y)
  8. Data harus berdistribusi normal
  9. Data berskala interval atau rasio
  10. Kedua variabel bersifat dependen, artinya satu variabel merupakan variabel bebas (disebut juga sebagai variabel predictor) sedang variabel lainnya variabel tergantung (disebut juga sebagai variabel response)

Sumber : https://busbagus.co.id/

REGRESI LINIER DENGAN PROGRAM STATA

REGRESI LINIER DENGAN PROGRAM STATA

REGRESI LINIER DENGAN PROGRAM STATA
REGRESI LINIER DENGAN PROGRAM STATA

Pengertian

Untuk mengukur besarnya pengaruh variabel bebas terhadap variabel tergantung dan memprediksi variabel tergantung dengan menggunakan variabel bebas. Gujarati (2006) mendefinisikan analisis regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan (the explained variabel) dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (the explanatory). Variabel pertama disebut juga sebagai variabel tergantung dan variabel kedua disebut juga sebagai variabel bebas. Jika variabel bebas lebih dari satu, maka analisis regresi disebut regresi linear berganda. Disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas akan dikenakan kepada variabel tergantung.

Tujuan

Tujuan menggunakan analisis regresi ialah

  • Membuat estimasi rata-rata dan nilai variabel tergantung dengan didasarkan pada nilai variabel bebas.
  • Menguji hipotesis karakteristik dependensi
  • Untuk meramalkan nilai rata-rata variabel bebas dengan didasarkan pada nilai variabel bebas diluar jangkaun sample.

Asumsi

Penggunaan regresi linear sederhana didasarkan pada asumsi diantaranya sbb:

  • Model regresi harus linier dalam parameter
  • Variabel bebas tidak berkorelasi dengan disturbance term (Error) .
  • Nilai disturbance term sebesar 0 atau dengan simbol sebagai berikut: (E (U / X) = 0
  • Varian untuk masing-masing error term (kesalahan) konstan
  • Tidak terjadi otokorelasi
  • Model regresi dispesifikasi secara benar. Tidak terdapat bias spesifikasi dalam model yang digunakan dalam analisis empiris.
  • Jika variabel bebas lebih dari satu, maka antara variabel bebas (explanatory) tidak ada hubungan linier yang nyata

Sumber : https://vhost.id/

Mengenal Risa Santoso, Rektor Termuda Berparas Cantik Jelita

Mengenal Risa Santoso, Rektor Termuda Berparas Cantik Jelita

Mengenal Risa Santoso, Rektor Termuda Berparas Cantik Jelita

Mengenal Risa Santoso, Rektor Termuda Berparas Cantik Jelita
Mengenal Risa Santoso, Rektor Termuda Berparas Cantik Jelita

TIDAK hanya rektor termuda, perempuan ini juga memiliki paras yang cantik.

Sosoknya sempat menjadi pembicaraan di media sosial. Siapakah dia dan seperti apa sosoknya?

Perempuan itu bernama Risa Santoso. Di usianya yang muda, yakni 27 tahun, Risa telah menduduki posisi puncak di salah satu perguruan tinggi di Malang, Jawa Tengah.

Sejak terpilih menjadi rektor di Institut Teknologi dan Bisnis Asia Malang

, . Netizen pun langsung berburu informasi mengenai dirinya.

Baca Juga:

Kemenag Geser Materi Khilafah dari Mata Pelajaran Fikih ke Sejarah
Pimpinan MPR Pertanyakan Revisi Konten Khilafah di Buku Pelajaran Agama

Sebelum menjadi rektor, Risa menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis di kampus tersebut.

Sarjana lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat ini juga pernah bekerja

sebagai tenaga ahli muda di Kantor Staf Presiden bidang Isu Strategis Ekonomi selama 1,5 tahun.

Kemudian Risa melanjutkan kuliah program magisternya di Harvard University. Setelah itu, Risa menjadi inisiator aktivitas Asia Entrepreneurship Training Program (AETP), program akselerasi kerja sama Swiss dan Indonesia.

 

Baca Juga :

Mahasiswa Hukum Didorong Aktif Belajar Hukum Acara

Mahasiswa Hukum Didorong Aktif Belajar Hukum Acara

Mahasiswa Hukum Didorong Aktif Belajar Hukum Acara

Mahasiswa Hukum Didorong Aktif Belajar Hukum Acara
Mahasiswa Hukum Didorong Aktif Belajar Hukum Acara

Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Hukum Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa

(IKA FH Untirta) mendorong mahasiswa Fakultas Hukum aktif mengikuti lomba debat hukum nasional setiap tahun.

“Lomba debat hukum nasional ini adalah pengalaman penting bagi mahasiswa agar mereka nanti siap terjun sebagai praktisi hukum,” ujar Ketua IKA FH Untirta Arfin Kommizanzili, SH., MH., saat menjadi juri acara lomba debat hukum nasional di Kampus Untirta, Serang, Banten, Minggu (16/11/2019).

Arfin mengatakan, mahasiswa sebagai calon sarjana hukum tidak cukup hanya memelajari

teori ilmu hukum di dalam kampus. Tapi, juga ilmu di luar kampus yang bisa di dapat lewat ajang kompetisi peradilan semu atau studi lapangan.

Baca Juga:

Menteri Nadiem Makarim: UN Tidak Dihapus
Raker dengan DPR, Mendikbud Dikasih Pantun Soal UN Dihapus

“Ilmu hukum ilmu yang aplikatif. Sulit memahami hukum acara kalau tidak melihat secara langsung,”

kata peraih gelar master hukum Universitas Gadjah Mada ini.

Arfin berharap, mahasiswa Fakultas Hukum Untirta bisa menjadi juara apabila mengikuti kompetisi debat hukum di luar Provinsi Banten. “Sebagai kampus negeri terbesar di Banten, mahasiswa Fakultas Hukum Untirta harus bisa mengharumkan nama kampus,” katanya.

Arfin juga mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah turut serta mensupport setiap kegiatan debat hukum nasional. “Penegakan hukum di negara ini pada masa depan akan berada di pundak generasi muda. Jadi mereka perlu disupport pemerintah,” terangnya.

 

Sumber :

http://blog.isi-dps.ac.id/nyomanyudiawan/programming-hub-apk/

Istana: Presiden Ingin Perubahan Drastis di Sistem Pendidikan

Istana Presiden Ingin Perubahan Drastis di Sistem Pendidikan

Istana: Presiden Ingin Perubahan Drastis di Sistem Pendidikan

Istana Presiden Ingin Perubahan Drastis di Sistem Pendidikan
Istana Presiden Ingin Perubahan Drastis di Sistem Pendidikan

Sekretaris Kabinet (Seskab), Pramono Anung mengatakan Presiden Joko Widodo

(Jokowi) ingin agar sistem pendidikan Indonesia ada perubahan drastis. Hal ini disampaikan Pram menanggapi pidatao Menteri pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim yang menyatakan kurikulum pendidikan saat ini terlalu berat.

“Presiden sangat mengharapkan ada perubahan drastis di dalam sistem pendidikan kita,” ujar dia di kantornya, Kompleks Istana, Jakarta, Senin (25/11/2019).

Dia mengatakan salah satu permintaan presiden kepada Mendikbud adalah mengubah sistem pendidikan

yang masih tertinggal jauh. Dia mengatakan presiden ingin agar sistem pendidikan Indonesia sejalan dengan perubahan zaman.

Baca Juga:

Program Merdeka Belajar, Guru Harus Bisa Buat Soal Tes Sendiri
Secepatnya Diumumkan, Jokowi Pastikan Dewas KPK Berintegritas Baik

“Karena sistem pendidikan kita dianggap masih jauh ketinggalan zaman dan tidak beradaptasi

dengan perubahan lingkungan. Terutama dengan era digital ini, sehingga proses belajar mengajar seharusnya ada di dalam ruangan kelas, bisa di luar kelas, bisa dengan pelatihan,” jelasnya.

Pram menambahkan bahwa Mendikbud telah diberikan kewenangan penuh oleh presiden untuk paradigm kurikulum. Termasuk dalam hal tata cara belajar mengajar.

“Sehingga memberikan kegembiraan pada siswa untuk belajar dan tidak dijejali dengan tugas-tugas yang terlalu berlebihan,” pungkasnya.

 

Sumber :

http://syifa.student.ittelkom-pwt.ac.id/9gag/

Teh Panas Tingkatkan Resiko Kanker

Teh Panas Tingkatkan Resiko Kanker

Teh Panas Tingkatkan Resiko Kanker

Teh Panas Tingkatkan Resiko Kanker
Teh Panas Tingkatkan Resiko Kanker

Mengkonsumsi teh panas pada temperatur 70 dejarat Celsius atau lebih kemungkinan besar meningkatkan resiko kanker tenggorokan. Demikian simpulan beberapa peneliti Iran.

Penelitian itu, yang disiarkan di dalam British Medical Journal, dilakukan di Iran utara, tempat sejumlah besar teh panas dikonsumsi setiap hari.

Kanker osophagus (kerongkongan) menewaskan lebih dari 500.000 orang di seluruh dunia setiap tahun dan “oesophageal squamous cell carcinoma” (OSCC) adalah jenis yang paling umum.

Beberapa studi terdahulu telah mengaitkan alkokol dan tembakau dengan kanker tenggorokan, yang lebih umum menyerang pria dibandingkan wanita. Dan kini meminum minuman panas juga diduga menyebabkan kanker semacam itu, kata penelitian tersebut.

Provinsi Golestan di Iran utara memiliki angka OSCC paling tinggi di dunia, tapi konsumsi alkohol dan angka perokok rendah, dan kaum perempuan memiliki kemungkinan diagnosis yang sama dengan kaum pria.

Kebiasaan minum teh tersebar luas di daerah tersebut, jadi para peneliti menetapkan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan antara kebiasaan minum teh dan resiko oesophageal squamous cell carcinoma.

Mereka meneliti kebiasaan minum teh sebanyak 300 orang yang didiagnosis menderita OSCC dan satu kelompok pembanding sebanyak 571 pria dan wanita dari daerah yang sama.

Hampir semua peserta minum teh hitam secara rutin, dan rata-rata mengkonsumsi lebih dari satu liter teh setiap hari.

Dibandingkan dengan meminum teh hangat atau suam kuku pada temperatur 65 derajat Celsius atau kurang, meminum teh panas, antara 65 dan 68 derajat Celsius, berkaitan dengan dua kali resiko kanker tenggorokan, dan meminum teh yang sangat panas pada 70 derajat Celsius atau lebih berkaitan dengan peningkatan delapan kali lipat.

Kondisinya sama, dibandingkan dengan meminum teh empat menit atau lebih setelah dituangkan, meminum teh kurang dari dua menit setelah dituangkan berkaitan dengan resiko lima kali lipat lebih tinggi.

“Hasil kami memperlihatkan peningkatan kuat resiko OSCC yang berhubungan dengan meminum teh panas atau sangat panas,” kata para peneliti itu. Mereka menyarankan orang mesti menunggu beberapa menit sebelum meminum satu gelas teh yang baru diseduh dengan air mendidih.

Laporan itu juga memberi dukungan kepada pendapat bahwa cedera karena tersengat hawa panas mungkin menjadi penyebab kanker “epithelium”, kendati cara panas meningkatkan perkembangan tumor belum diketahui.

Baca Juga :