Berlaku Baik terhadap Istri

Berlaku Baik terhadap Istri

Allah Ta’ala berfirman,

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.(An-Nisa’: 19)

Seorang istri berharap agar suaminya lebih menghormati dirinya ketimbang orang lain. Harapannya ini jelas dibenarkan. Sebab, suami adalah teman hidup dan penghibur terbaik bagi hatinya. Sepanjang hari dirinya bekerja demi kesenangan anak-anak. Salahkah kalau dirinya kemudian menganggap pantas dihormati? Menghormati istri tidak akan mengurangi kewibawaan seorang suami. Bahkan sebaliknya, kian mengukuhkan kesetiaan dan kecintaan suami kepada istri, sekaligus sebagai tanda terima kasih. Janganlah seorang suami menggunakan kata-kata yang tidak senonoh  ketika berbincang dengan istri. Janganlah berteriak sewaktu memanggilnya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra dari Nabi SAW, beliau bersabda,

“Nasehatilah wanita dengan baik, karena sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan, bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk ialah bagian atasnya. Jika kamu memaksakan dalam meluruskannya, maka kamu akan memecahkannya. Dan apabila kamu biarkan saja, maka ia akan tetap bengkok terus. Nasehatilah wanita dengan baik.

Secara naluri, seorang wanita memang memiliki perasaan yang halus. Tetapi ia mudah marah. Oleh karena itu,  seorang suami wajib bersabar dalam menghadapinya dan berlaku lembut kepadanya, supaya mereka tetap bisa hidup tentram, damai, dan bahagia.

Ø  Bermain dan Bercanda dengan Istri

Seorang suami harus berlaku penuh sayang kepada istrinya, dan berusaha menghibur dengan bermain serta bercanda,karena hal itu dapat menyenangkan hati istri. Sesungguhnya seorang wanita sebelum menikah mendapatkan kasih sayang serta kelembutan dari kedua orang tuanya. Namun setelah mengikat janji suci pernikahan, ia berlepas diri dari semua itu, untuk kemudian menambatkan tali kasih sayang dan pengertiannya kepada suaminya. Dalam benaknya, ia berharap agar di rumah suaminya kelak dirinya dapat mereguk cinta kasih sayang dari suaminya, sebagaimana yang sebelumnya ia peroleh dari kedua orang tuanya. Bahkan, dirinya berharap agar suaminya mencintai dan mengasihinya lebih daripada cinta dan kasih kedua orang tuanya.

Baca juga: