Belief, Kelas Impian , Budaya Kelas

Belief, Kelas Impian , Budaya Kelas

Belief, Kelas Impian , Budaya Kelas

Belief, Kelas Impian , Budaya Kela
Belief, Kelas Impian , Budaya Kela

Setelah memberi contoh, teknik pertama yang saya gunakan SOP, Standard Operational Procedure atau Prosedur Pengoperasionalan suatu system. Kalau dilihat dari namanya, tentulah ini suatu hal yang sulit dilakukan, apalagi istilahnya begitu asing. Pastilah tidak cocok untuk anak2. Bukan, ini bukan suatu momok menakutkan dan bahkan bisa diterapkan bahkan pada siswa taman kanak-kanak. SOP adalah sejenis peraturan yang diterapkan ketika kita pertama kali melakukan pengoperasian suatu system, atau barang atau pekerjaan.

Sejenis rangkaian aktivitas yang harus dikerjakan sebelum kita memulai suatu system.

Seperti di perusahaan2 terkemuka, maka saya menganggap kelas adalah suatu system, system yang harus dijalankan secara professional. Agar system ini berjalan dengan baik, maka diperlukan SOP tadi, agar apa yang saya dan anak2 inginkan dapat terlaksana. Oleh karena itu, saya pun menerapkan SOP ini pertama kali mereka masuk ke kelas saya, dalam arti yang sesungguhnya, yaitu di awal tahun ajaran baru. Saya menyebutnya “Belief” atau di sekolah2 lain disebut sebagai “Rule” atau peraturan. Tetapi saya tidak mau menggunakan kata peraturan untuk kelas saya, karena itu berarti saya memaksa anak2 menuruti apa kata dan perintah saya, padahal saya mau hal tersebut datang dari anak2, anak2 sadar sepenuhnya bahwa kalau mereka tidak menjalankan ini, mereka sendiri yang akan rugi. Saya ingin anak2 belajar tentang pentingnya kesadaran diri akan tanggung jawab tanpa selalu saya ingatkan apalagi paksaan dari saya sehingga anak2 senang berada di kelas saya, nyaman dan betah.

Untuk itu, saya ganti kata `Rule” dengan “Belief” atau “Aturan/Peraturan” menjadi “Kepercayaan” yang di dalamnya mengandung arti saling percaya dan menjaga. Atau bisa saja menjadi `Kelas Impian’ atau “Kelas Idaman” atau apa pun istilahnya tergantung pada kesepakatan antara kita dan anak2. Di beberapa daerah tempat saya memberi pelatihan tentang “Belief” ini mereka menggunakan istilah “Budaya Kelas”.

Perlu juga disampaikan kepada anak2 alasan mengapa kita menggunakan kata belief ini, sehingga anak2 bisa memahami dan lebih mudah bagi mereka mempraktekkannya. Orang percaya karena telah mengenal. Orang mengenal karena berada dalam satu system yang sama. System dibangun atas dasar percaya dan disiplin. Disinilah disipin itu berperan. Tentu saja cara kita memberi tahukan anak juga amat penting, Gunakanlah bahasa yang dapat dimengerti anak, hindarilah memberi mereka istilah2 yang tidak mereka kenal. Hal ini akan berakibat fatal. dengan apa yang mereka ketahui saja. Berikan contoh2 nyata atau gambar di papan tulis bila perlu. Ini sangat membantu apabila kita memiliki siswa2 yang sangat visual sehingga segala sesuatu harus disertai dengan gambar.

Ketika anak2 sudah mulai mengerti, maka akan saya bagikan sebuah kertas karton manila ukuran besar (biasanya sih 100X60cm, atau satu plano) dan menuliskan judulnya besar2, misalnya saja “3F Classroom Belief”; atau `My Home Sweet Home Belief’ ; atau “Kelas Impianku” atau “Kelasku Rumah Keduaku” dan lain sebagainya tergantung kesepakatan antara si guru dan murid2nya. Kemudian, saya pun menuliskan poin pertama yang juga harapan saya tentang kelas itu, misalnya saja saya akan menulis “Kelas yang bersih, nyaman dan rapi”.

Sambil menuliskan poin ini, saya pun mulai memasukkan doktrin2 saya tentang kelas yang nyaman, bersih dan rapi ini. Saya akan bertanya kepada mereka bagaimana dan seperti apa tanggung jawab setiap siswa agar kelas menjadi bersih, nyaman dan rapi. Sampai di sini, kita dan anak2 sudah melakukan komunikasi dua arah. Di sini terjadi proses perkenalan antara si guru dan siswa2nya, siswa dengan teman2nya. Kemudian, saya meminta masing2 anak untu menuliskan apa2 saja yang harus dilakukan agar kelas menjadi kelas impian sesuai dengan keinginan mereka.

Misalnya saja seperti, `Berbaris rapi’, `memiliki teman banyak’ dan lain sebagainya. Begitu seterusnya sampai semua anak selesai menuliskan kalimat-kalimat impian mereka tentang kelas yang mereka senangi. Setelah semua anak menulis, mereka boleh memberi hiasan, membacakannya agar tidak ada lagi hal yang tertinggal sebelum “belief” ini dipasang di dinding kelas. Saya akan minta anak2 berdiskusi agar mereka bisa menambah atau menguranginya sendiri. Ini merupakan proses pembelajaran itu sendiri. Apabila mereka sudah merasa mantap, maka “Belief” bisa dipajang di dinding kelas. Saya akan terus menerus mengingatkan anak2 untuk membaca “belief” ini setiap hari. Ketika mereka mulai ribut di kelas, maka saya akan meminta anak2 untuk membaca keras2 apa yang telah mereka tulis dan tertulis di “Belief”.

Selain itu saya juga meminta anak2 untuk saling mengingatkan apabila ada teman mereka yang melanggar janji mereka sendiri. Biasanya anak2 di kelas rendah akan banyak mengadu dan melaporkan pelanggaran2 yang terjadi ketika saya tidak ada di kelas. TIdak apa2, tugas kita adalah menetralisir keadaan dengan kata2 yang bijak. Kita juga harus pandai-pandai menyelesaikan masalah yang timbul, gunakan bahasa yang positif agar anak dapat mengambil manfaat dari tiap permasalahan yang muncul. Selesaikan masalah dengan tuntas dan jangan menghakimi satu anak.

Baca Juga :